Main Mobil Radio Control 3 Bulan Baru Mahir

 REMOT KONTROL: Budi bersama mobil RC saat ditemui di Sun Hobbies,
Jum’at (4/3).//RAHMAT SAZALY/SUMUT POS

SumutPos
Ternyata, piawai memainkan mobil radio control (RC) dengan baik, bisa menjadikan kita seorang atlet. Sedikitnya, ada empat orang di Medan yang kini menjadi atlet olahraga rekreasi karena tangkas memainkan mobil RC tersebut. Bagaimana kiprah mereka?
Rahmat Sazaly, Medan
Mobil RC yang dimaksudkan di sini bukan yang menggunakan wayar berukuran kecil, seperti yang sering dimainkan anak-anak. Tapi masing-masing mobil RC ini memiliki ukuran, jenis dan spesifikasi. Tentunya dengan banderol harga yang bervariasi pula.
Olahraga memainkan mobil RC ini dikatakan elit karena harga mobilnya bisa mencapai Rp25 juta. Namun, mobil RC standar yang sudah layak untuk mengikuti perlombaan atau kejuaraan ada juga yang dibanderol dengan harga Rp4 juta. “Tapi itu masih sangat standar,” ujar Budi, seorang mekanik di komunitas mobil RC Sun Hobbies, Jum’at (4/3).
Budi yang telah bergelut di dunia mobil RC selama 12 tahun ini bercerita banyak tentang pengalamannya sebagai mekanik. Tentunya tak hanya pengalaman memerbaiki mobil-mobil RC tersebut, tapi pengetahuannya tentang seluk beluk olahraga elit ini.
Karena menurut pria yang berasal dari Kota Kembang Bandung ini Ia juga sempat menemani pembalap mobil RC ini hingga ke tingkat dunia. “Even-even internasional sudah sering saya ikuti bersama pembalap. Dan bersama pembalap yang kini berada di Sun Hobbies ini saya juga sudah pernah ke Maccau dalam kejuaraan internasional,” terangnya.
Budi juga memaparkan, untuk tingkat daerah Sumut, komunitas resminya bernama medan radio control community (MRCC), untuk tingkat nasional Asosiasi Radio Model Indonesia (ARMI) dan tingkat dunianya bernama International Federation of Model Auto Racing (IFMAR).
Mobil RC ini masing-masing dikelompokkan sesuai besar mobil. Untuk yang paling kecil 1/10, 1/8 dan 1/5. Jenisnya juga ada yang elektrik drip, touring engine, adventure, crawler, buggy dan truggy. Namun, yang saat ini ramai diperlombakan dalam kejuaraan adalah 1/10 elektrik drip, 1/10 touring engine, 1/10 adventure, 1/10 crawler dan 1/8 buggy. “Untuk yang 1/5 truggy di Indonesia tak ada kejuaraannya, tapi di luar negeri ada. Dan ukuran 1/10, 1/8 hingga 1/5 ini maksudnya, perbandingan ukuran mobil tersebut dengan mobil sebenarnya,” papar Budi.
Kemudian, lanjut Budi, dibagi lagi dalam dua kondisi sirkuit yakni onroad dan offroad. Khusus yang buggy selalu offroad alias sirkuitnya lebih ekstrim dari sirkuit onroad. “Karena di sirkuit offroad terbuat dari tanah dan terdapat gundukan-gundukan untuk jumping hingga genangan-genangan air. Sementara di sirkuit onroad hanya terbuat dari keramik atau aspal,” tuturnya.
Di Sumut sendiri komunitas mobil RC ini terbagi-bagi menurut jenis mobilnya. Yang elektrik drip di Jalan Sei Bingai Langkat yang terkenal dengan Kampung Drip. “Sangking terkenalnya karena terdapat sirkuit untuk mobil RC jenis elektrik drip, satu daerah di sana di sebut dengan Kampung Drip,” ungkap Budi.
Kemudian, sambungnya, untuk komunitas touring engine ada di Sun Hobbies Onroad Circuit Jalan Garuda Medan. “Sedangkan untuk komunitas buggy terdapat di daerah Polonia Medan, tepatnya di depan Taman Dirgantara,” ujar Budi.
Kalau soal ngumpul-ngumpulnya, para anggota komunitas berkumpul pada Sabtu hingga malam Minggu di Sun Hobbies Onroad Circuit. Sedangkan pada hari Minggu berkumpul di daerah Polonia Medan. “Masing-masing komunitas boleh bergabung bermain, kalau ada mobil RC touring engine gabung di Sun Hobbies Onroad Circuit kalau ada mobil RC buggy gabung lagi di daerah Polonia Medan,” jelas Budi seraya menambahkan, komunitas di Sumut yang terkenal yakni Mugen, X-Ray, Tomat Merah dan Sun Hobbies.
Untuk belajar bermain mobil RC bagi pemula biasanya menghabiskan waktu minimal 3 bulan. Tahapan kebisaan pembalap juga ada tingkatannya. Atau paham, bisa hingga mahir. Menurut Budi, biasanya yang mudah nangkap 3 bulan sudah bisa mahir. Jadi tergantung orangnya juga.
“Beda pula tingkatan di even kejuaraan, itu dibedakan menjadi beginner, non seeded, seeded hingga master. Tingkatan ini ditentukan seorang pembalap yang telah mengikuti berbagai even, baik tingkat daerah, nasional dan internasional,” katanya.
Budi juga memaparkan, yang sering menjadi kendala pada mobil RC ini adalah seringnya frekwensi dari remot kontrol yang bertabrakan. “Namun, seiring kemajuan teknologi, setiap remot kontrol telah memiliki sinyal yang kuat masing-masing dengan frekuensi giga hertz (GHz). Dan untuk remot kontrol yang dibeli terpisah bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp4,5 juta,” tuturnya.
Menurut Budi, produsen mobil RC yang terbaik adalah Kyosho dari Jepang yang memang telah memiliki pabrik sendiri sejak sekitar 1950-an. Diikuti dengan Mugen Seiki dari Jepang dan X-Ray dari Slovakia.
Sementara untuk sparepart mobil RC ini tak susah untuk di dapat di Indonesia. Karena di Indonesia dan tersebar di beberapa kota besar telah memiliki distributor. “Tapi untuk Medan sendiri belum ada distributor khusus, tapi baru dealer-dealer resmi saja,” kata Budi.
Saat ini pembalap mobil RC Indonesia baru mampu menempati peringkat 50 besar dunia. Dan Indoensia sendiri baru mampu menjadi produsen ban mobil RC bermerek Prochamp yang pabriknya di Cikarang Bekasi.
Budi berharap perhatian pemerintah semakin besar terhadap pembalap-pembalap mobil RC ini. Karena menurutnya, workshop hingga pelatihan-pelatihan untuk para pembalap tersebut sangat jarang. “Mereka mayoritas masih belajar secara otodidak atau diajarkan oleh para senioran mereka. Bagaimana kita mau bersaing di taraf dunia?” jelasnya.
Budi juga menambahkan, para pembalap ini mengasah kemampuan pada kejuaraan daerah yang setiap tahun digelar dan kejuaraan nasional yang digelar 2 tahun sekali. (*)

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Delete this element to display blogger navbar

 
© 2010 Koran Medan is proudly powered by Blogger