0 Jepang Ajak Medan Kerjasama Teknologi

Medan, (Analisa)
Konsul Jenderal Jepang Yuji Hamada mengajak Kota Medan untuk meningkatkan kerjasama di bidang teknologi. Kerjasama itu pun diharapkan melibatkan masyarakat secara luas.
Hal ini disampaikan Hamada usai bersilaturahmi dengan Ketua DPRD Medan Amiruddin di Gedung Dewan, Senin (7/3).
Menurutnya, saat ini Pemerintah Kota Medan sudah menjalin kerjasama kota kembar (sister city) dengan Kota Ichikawa di Jepang. Namun selama ini sifat kerjasama itu masih sebatas pertukaran pelajar dan budaya. "Kalau ada event masing-masing saling berkunjung dan memperkenalkan kebudayaannya. Ke depan kami berharap kerjasama itu bisa ditingkatkan dengan melibatkan DPRD Kota Medan," sebutnya.
Hamada mengatakan, Kota Medan memiliki sumber daya alam seperti pertanian, perkebunan maupun hal lainnya. Kata dia, masyarakat Medan dan Ichikawa juga harus dilibatkan dalam kerjasama antar kota ini.
"Kalau perlu dibuat semacam wadah kerjasama masyarakat Jepang dengan Medan. Misalnya seperti alih teknologi dalam sistem pertanian," ujar diplomat yang baru bertugas satu bulan di Medan ini.
Yuji Hamada yang sudah 14 tahun tinggal di Indonesia ini mengharapkan, akan terjalin kerjasama yang baik antara kedua belah pihak seperti dalam bentuk pertukaran kebudayaan, di samping dalam bidang teknologi tadi.
Belum lama ini, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang melakukan penjajakan kerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut. Kerja sama ini nantinya akan dilakukan untuk pengembangan pengendalian pencemaran limbah cair khususnya limbah dari Pabrik Kepala Sawit (PKS) dan industri lainnya yang berada di Sumut dengan teknologi.
Potensi
Sumut sangat potensial sekali dengan produksi minyak sawit dan saat ini Jepang tertarik bekerja sama mengendalikan pencemaran limbah cair yang diproduksi oleh PKS. Tujuannya untuk mengurangi gas metan yang dihasilkan dari limbah tersebut.
Ketua DPRD Medan Amiruddin menyambut baik peningkatan kerjasama Jepang dan Kota Medan ini apalagi dalam hal alih teknologi di segala bidang. Sebab harus diakui, Jepang memiliki teknologi yang lebih canggih. "Kerjasama sister city ini harus dikembangkan lagi. Sebab daerah ini punya potensi yang bisa dieksploitasi untuk kebaikan daerah dan masyarakatnya," katanya.
Misalnya di bidang pertanian, Medan atau Sumatera Utara secara umum memiliki lahan yang cukup memadai. Dengan kerjasama yang dibangun, Jepang memiliki hasrat untuk menyalurkan kemampuan teknologinya mendukung pertanian itu.
"Bisa saja dengan teknologinya itu, hasil pertanian semakin baik. Atau juga bisa memaksimalkan lahan yang ada untuk hasil yang maksimal," katanya.
(sug)

0 Dell Inspiron One 2310 All in One Harga Dibanderol Rp13,6 Juta

SumutPos

MEDAN-Softcom distributor dan dealer resmi merek komputer terkenal dunia Dell, menggelar pameran produknya pada Fomikomtech VI di Plaza Medan Fair Medan.
Softcom yang beralamat di Jalan Asia Raya Blok H No 10 Kompleks Asia Mega Mas Medan ini memamerkan satu produk terbaru Dell yang baru saja diluncurkan pada 24 Februari 2011 lalu, Dell Inspiron One 2310 All in One.
Keistimewaan produk ini adalah layar monitor WLED 23 inchi dan pengoperasian touch screen. “Untuk mengoperasikan microsoft office misalnya, bisa langsung menggunakan layar monitor, karena tersedia keyboard virtualnya. Tapi kita menyediakan keyboard dan mouse wireless standar juga dalam satu paket pembelian produk ini,” terang Marketing Softcom Lia, Minggu (27/2).
Selain menyuguhkan layar yang lebar serta pengoperasian layar sentuh, Dell Inspiron One 2310 All in One juga dilengkapi dengan prosesor Intel Core i5 dan 6 GB DDR3 yang memberikan kecepatan maksimal di setiap pengoperasian program-program pendukung dan tambahan.
Untuk mengoperasikan games di dalamnya, Dell Inspiron One 2310 All in One juga didukung dengan hardware grafik 1 GB ATI Radeon Graphic. “Jadi permainan baik yang off maupun online, tampak lebih nyata dan detail yang menjadikan permainan tersebut lebih seru dan mengasikkan,” kata Lia seraya menambahkan untuk OS-nya didukung dengan Windows 7 Home Premium 64 bit.
Sedangkan perangkat pendukung DVD Dell Inspiron One 2310 All in One menggunakan Blue-ray (BD) Combo Drive. Dan masih banyak lagi keunggulan yang disuguhkan Dell Inspiron One 2310 All in One.
Untuk awal pemasaran di Medan, Dell Inspiron One 2310 All in One dibanderol Rp13,6 juta. “Ini merupakan harga khusus di pameran yang berlangsung sejak 24 Februari hingga 2 Maret 2011 mendatang. Setelah pameran tentunya harganya akan berubah,” jelas Lia.
Selain Dell Inspiron One 2310 All in One, Softcom juga memamerkan produk terbaru Dell Seri XPS. Dell New XPS Series ini mendandani performa operasi prosesornya dengan Intel Core i7. Ditambahan Turbo Boost to 2.93 GHz Quad Core. “Kinerja prosesor semakin kencang ditambah memori 4 GB DDR3 SDRAM,” papar Lia.
Dell New XPS Series seperti seri XPS 15 didukung juga grafik untuk game dengan 2 GB nVIDIA GeForce GT435 Graphic. Seri XPS ini dibanderol dari harga Rp9,9 juta hingga Rp12,3 juta.
Softcom juga memamerkan laptop khusus game, Alienware yang memiliki sistem game dengan performa tinggi. Tak pelak harga yang ditawarkan juga sangat berbeda dengan laptop user biasa. Harganya dibanderol dari harga Rp14,4 juta hingga 29,5 juta. (saz)

0 Main Mobil Radio Control 3 Bulan Baru Mahir

 REMOT KONTROL: Budi bersama mobil RC saat ditemui di Sun Hobbies,
Jum’at (4/3).//RAHMAT SAZALY/SUMUT POS

SumutPos
Ternyata, piawai memainkan mobil radio control (RC) dengan baik, bisa menjadikan kita seorang atlet. Sedikitnya, ada empat orang di Medan yang kini menjadi atlet olahraga rekreasi karena tangkas memainkan mobil RC tersebut. Bagaimana kiprah mereka?
Rahmat Sazaly, Medan
Mobil RC yang dimaksudkan di sini bukan yang menggunakan wayar berukuran kecil, seperti yang sering dimainkan anak-anak. Tapi masing-masing mobil RC ini memiliki ukuran, jenis dan spesifikasi. Tentunya dengan banderol harga yang bervariasi pula.
Olahraga memainkan mobil RC ini dikatakan elit karena harga mobilnya bisa mencapai Rp25 juta. Namun, mobil RC standar yang sudah layak untuk mengikuti perlombaan atau kejuaraan ada juga yang dibanderol dengan harga Rp4 juta. “Tapi itu masih sangat standar,” ujar Budi, seorang mekanik di komunitas mobil RC Sun Hobbies, Jum’at (4/3).
Budi yang telah bergelut di dunia mobil RC selama 12 tahun ini bercerita banyak tentang pengalamannya sebagai mekanik. Tentunya tak hanya pengalaman memerbaiki mobil-mobil RC tersebut, tapi pengetahuannya tentang seluk beluk olahraga elit ini.
Karena menurut pria yang berasal dari Kota Kembang Bandung ini Ia juga sempat menemani pembalap mobil RC ini hingga ke tingkat dunia. “Even-even internasional sudah sering saya ikuti bersama pembalap. Dan bersama pembalap yang kini berada di Sun Hobbies ini saya juga sudah pernah ke Maccau dalam kejuaraan internasional,” terangnya.
Budi juga memaparkan, untuk tingkat daerah Sumut, komunitas resminya bernama medan radio control community (MRCC), untuk tingkat nasional Asosiasi Radio Model Indonesia (ARMI) dan tingkat dunianya bernama International Federation of Model Auto Racing (IFMAR).
Mobil RC ini masing-masing dikelompokkan sesuai besar mobil. Untuk yang paling kecil 1/10, 1/8 dan 1/5. Jenisnya juga ada yang elektrik drip, touring engine, adventure, crawler, buggy dan truggy. Namun, yang saat ini ramai diperlombakan dalam kejuaraan adalah 1/10 elektrik drip, 1/10 touring engine, 1/10 adventure, 1/10 crawler dan 1/8 buggy. “Untuk yang 1/5 truggy di Indonesia tak ada kejuaraannya, tapi di luar negeri ada. Dan ukuran 1/10, 1/8 hingga 1/5 ini maksudnya, perbandingan ukuran mobil tersebut dengan mobil sebenarnya,” papar Budi.
Kemudian, lanjut Budi, dibagi lagi dalam dua kondisi sirkuit yakni onroad dan offroad. Khusus yang buggy selalu offroad alias sirkuitnya lebih ekstrim dari sirkuit onroad. “Karena di sirkuit offroad terbuat dari tanah dan terdapat gundukan-gundukan untuk jumping hingga genangan-genangan air. Sementara di sirkuit onroad hanya terbuat dari keramik atau aspal,” tuturnya.
Di Sumut sendiri komunitas mobil RC ini terbagi-bagi menurut jenis mobilnya. Yang elektrik drip di Jalan Sei Bingai Langkat yang terkenal dengan Kampung Drip. “Sangking terkenalnya karena terdapat sirkuit untuk mobil RC jenis elektrik drip, satu daerah di sana di sebut dengan Kampung Drip,” ungkap Budi.
Kemudian, sambungnya, untuk komunitas touring engine ada di Sun Hobbies Onroad Circuit Jalan Garuda Medan. “Sedangkan untuk komunitas buggy terdapat di daerah Polonia Medan, tepatnya di depan Taman Dirgantara,” ujar Budi.
Kalau soal ngumpul-ngumpulnya, para anggota komunitas berkumpul pada Sabtu hingga malam Minggu di Sun Hobbies Onroad Circuit. Sedangkan pada hari Minggu berkumpul di daerah Polonia Medan. “Masing-masing komunitas boleh bergabung bermain, kalau ada mobil RC touring engine gabung di Sun Hobbies Onroad Circuit kalau ada mobil RC buggy gabung lagi di daerah Polonia Medan,” jelas Budi seraya menambahkan, komunitas di Sumut yang terkenal yakni Mugen, X-Ray, Tomat Merah dan Sun Hobbies.
Untuk belajar bermain mobil RC bagi pemula biasanya menghabiskan waktu minimal 3 bulan. Tahapan kebisaan pembalap juga ada tingkatannya. Atau paham, bisa hingga mahir. Menurut Budi, biasanya yang mudah nangkap 3 bulan sudah bisa mahir. Jadi tergantung orangnya juga.
“Beda pula tingkatan di even kejuaraan, itu dibedakan menjadi beginner, non seeded, seeded hingga master. Tingkatan ini ditentukan seorang pembalap yang telah mengikuti berbagai even, baik tingkat daerah, nasional dan internasional,” katanya.
Budi juga memaparkan, yang sering menjadi kendala pada mobil RC ini adalah seringnya frekwensi dari remot kontrol yang bertabrakan. “Namun, seiring kemajuan teknologi, setiap remot kontrol telah memiliki sinyal yang kuat masing-masing dengan frekuensi giga hertz (GHz). Dan untuk remot kontrol yang dibeli terpisah bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp4,5 juta,” tuturnya.
Menurut Budi, produsen mobil RC yang terbaik adalah Kyosho dari Jepang yang memang telah memiliki pabrik sendiri sejak sekitar 1950-an. Diikuti dengan Mugen Seiki dari Jepang dan X-Ray dari Slovakia.
Sementara untuk sparepart mobil RC ini tak susah untuk di dapat di Indonesia. Karena di Indonesia dan tersebar di beberapa kota besar telah memiliki distributor. “Tapi untuk Medan sendiri belum ada distributor khusus, tapi baru dealer-dealer resmi saja,” kata Budi.
Saat ini pembalap mobil RC Indonesia baru mampu menempati peringkat 50 besar dunia. Dan Indoensia sendiri baru mampu menjadi produsen ban mobil RC bermerek Prochamp yang pabriknya di Cikarang Bekasi.
Budi berharap perhatian pemerintah semakin besar terhadap pembalap-pembalap mobil RC ini. Karena menurutnya, workshop hingga pelatihan-pelatihan untuk para pembalap tersebut sangat jarang. “Mereka mayoritas masih belajar secara otodidak atau diajarkan oleh para senioran mereka. Bagaimana kita mau bersaing di taraf dunia?” jelasnya.
Budi juga menambahkan, para pembalap ini mengasah kemampuan pada kejuaraan daerah yang setiap tahun digelar dan kejuaraan nasional yang digelar 2 tahun sekali. (*)

0 Antar Kader PDIP Medan Bentrok

 
 
Laporan Wartawan Tribun Medan/Irwansyah Putra Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ribuan Kader PDIP yang mendatangi kantor DPC PDIP Medan, Kamis (3/3) di Jl Sekip Medan terlibat bentrok. Bentrokkan yang terjadi antar kader PDIP menuntut agar kepengurusan DPC Kota Medan dibekukan, dan juga hendak melakukan penyegelan terhadap Kantor DPC PDI Medan dengan kader yang pro dengan DPC. Bnetrokkan terjadi karena adanya lemparan dari dalam gedung.

Awalnya kader PDIP yang berada didalam kantor DPC PDIP melemparkan aqua ke arah kader yang berada diluar atau yang kontra dengan DPC PDIP Medan. Kader PDIP yang berada diluar tidak diam saja, mereka membalas lemparan tersebut dengan menggunakan batu. 

Kader PDIP yang berada diluar kantor DPC PDIP Medan hampir kehabisan kesabaran karena pengurus DPC belum juga menemui mereka. Sementara itu, petugas kepolisian yang berjaga berada ditengah kedua belah pihak kader PDIP yang bentrok masih terus berjaga dan melakukan pengamanan.

Editor : budi
Sumber : Tribun Medan

0 Lelang Kantor UOB Buana Medan Ditunda, Pemohon dan Peserta Lelang Kecewa

Medan, (Analisa)
Puluhan pegawai PT Abdi Bakti Rakyat berunjukrasa di depan gedung Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (3/3). Mereka datang bersama peserta lelang, sembari membawa spanduk berisi permintaan
pelaksanaan lelang terhadap dua Kantor United Overseas Bank (UOB) atau UOB Buana berpusat di Singapura, yang terletak di Jalan Palang Merah dan Tomang Elok, Medan.
Namun, proses lelang tersebut kemarin ditunda, pasalnya pihak Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Medan menolak proses pelelangan, disebabkan dalam surat perintah lelang dari PN Medan tidak dipastikan ukuran/luas objek lelang.
Akibat ditundanya proses lelang itu, pemohon yakni PT Abdi Bakti Rakyat (ABR) merasa sangat kecewa, begitu pula peserta lelang. Padahal dari pengakuan peserta lelang yang rata-rata warga keturunan Tionghoa itu, sudah menyetorkan uang jaminan lelang mulai ratusan hingga miliaran rupiah.
"Pastinya kita sangat kecewa, karena diumumkan hari ini (Kamis-red) lelangnya, tapi tidak jadi hanya karena ukuran objek lelang tidak pasti, di surat disebut "sekitar" atau "lebih kurang" sekian," tegas salah seorang peserta lelang yang tak mau disebutkan identitasnya.
Padahal kata mereka, masalah ukuran itu yang diklaim pihak KPKNL tidak bisa dilakukan lelang sebelum mengetahui ukuran pastinya, tidaklah masalah bagi mereka. "Ibarat lelang mobil, terkadang tak ada bannya, begitu pula dalam lelang ini. Jadi sebenarnya tidak masalah bagi kami," sebutnya lagi.
Kalaupun, ujar pria berkacamata ini, proses lelang ditunda karena luasnya disebutkan "sekitar", seharusnya sejak awal pihak KPKNL mengumumkan penundaan proses lelang ini. Dan meminta kepada pihak yang berwenang untuk melakukan pengukuran ulang pada objek lelang.
"Jadi jangan begini caranya, kami sudah sejak pagi menunggu namun nyatanya ditunda, waktu kami jadinya terbuang," ujar pria berpakaian batik ini sembari mengatakan ia telah menyetorkan uang jaminan senilai Rp1,375 miliar ke Bank Sumut.
Sementara, pihak pemohon lelang (PT ABR) didampingi kuasa hukumnya Abdurrahman SH mengatakan, ditundanya proses lelang karena ukuran/luas lahan dalam surat perintah lelang oleh PN Medan disebutkan "lebih kurang", sehingga pihak KPKLN mengklaim tidak bisa melakukan lelang, dipertanyakan pada pihak PN Medan.
Namun, pihak PN Medan melalui Humas, Jhonny Sitohang SH di ruang kerjanya mengatakan, sementara pihaknya akan meneliti kembali surat perintah lelang itu dan meminta kepada pemohon dan peserta lelang agar bersabar.
Putusan MA
Sebagaimana dikatakan Abdurrahman, dalam perkara ini pihak UOB Buana mengabaikan putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) RI No.93 PK/Pdt/2002 tanggal 2003 yang telah berkekuatan hukum tetap.
Dalam putusan PK MA RI itu, menguatkan putusan PN Medan tertanggal 20 Agustus 1997, yang menghukum OUB untuk membayar uang paksa senilai US$ 10.000 perhari secara tunai kepada penggugat, PT ABR.
Bahkan sebelumnya pihak PN Medan telah melakukan sita eksekusi terhadap dua Kantor UOB Buana tersebut karena mengabaikan putusan PK MA RI. Karena terus diabaikan, penggugat atau pemohon lelang PT ABR memohon lelang eksekusi ke PN Medan.
Menindaklanjuti permohonan lelang kliennya, Ketua PN Medan Panusunan Harahap meminta tim penilai publik independen dari Kantor Jasa Abdullah Priantoro, untuk menaksir harga kedua gedung UOB Buana Medan sebagai objek lelang.
Bermula Sejak 1996
Awal terjadinya perkara ini, kata Abdurrahman sejak tahun 1996 lalu. Awalnya UOB pada tahun bernama Overseas Union Bank (OUB) juga bank asal Singapura mensomasi PT ABR dengan tudingan tidak membayar hutang.
Sementara pihak ABR merasa tidak memiliki hutang, namun hutang itu atas nama pribadi salah seorang pegawainya. Akibatnya ABR menggugat OUB dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Gugatan kliennya menang di PN Medan dengan menghukum pihak OUB agar menyatakan permintaan maaf dan dimuat di media cetak, jika tidak OUB harus membayar denda (dwangsom) pada ABR senilai US$10.000 perhari. Jika diperkirakan hingga saat ini, pihak OUB tidak membayar uang paksa sebesar Rp250 miliar.
Namun hal itu tidak dilakukan pihak OUB, hingga bank tersebut melakukan merger dengan UOB yang juga bank Singapura tahun 2001, sehingga kini menjadi UOB. "Walau demikian, dalam hukum merger menegaskan maka kewajiban OUB membayar denda pindah ke UOB, namun tetap diabaikan hingga kejadian ini (kemarin-red) muncul," sebut Abdurrahman.
Pantauan wartawan, buruh PT ABR yang bergerak di bidang kaca itu, saat demo dan konvoi kemarin selain membentangkan poster juga mengenakan jubah putih bertuliskan UOB sebagai bank Singapura yang dituding sebagai penipu kelas kakap. (dn)

0 Usut Kebakaran Pulo Brayan

SumutPos

MEDAN- Ratusan mahasiswa mengatasnamakan Himpunan Mahasiswa Alwashiyah (HIMMAH) Kota Medan menggelar aksi di Mapoldasu Jalan Sisingamangaraja Km 10,5, Medan, Kamis (3/3)n siang. Mereka menuntut Poldasu untuk mengusut penyebab kebakaran Pasar Pulo Brayan dan oknum yang melakukan pungutan liar terhadap para pedagang.
Dalam aksi tersebut, massa juga mendesak Wali Kota Medan untuk menertibkan pasar-pasar tradisional liar, sehingga terciptanya ketertiban di Pulo Brayan.
“Para pedagang dikutip Rp1.000 setiap harinya, tapi begitu terbakar, mana tanggung jawab yang mengutip itu?” ujar Mahadi Siregar, koordinator lapangan didampingi ketua umum PC HIMMAH Kota Medan Abdul Rahim Lubis.
Selama satu jam menyampaikan orasi, namun pihak Poldasu tak kunjung menanggapinya. Akibatnya, massa mulai kecewa dan menebarkan spanduk tuntutan mereka di halaman Poldasu. Melihat massa yang kecewa, pegawai Humas Poldasu Kompol B Manurung turun ke lokasi dan berjanji akan menyampaikan tuntutan pada pendemo tersebut.
“Seluruh tuntutan kalian akan segera kita lanjutkan untuk segera ditindak,” beber Kompol B Manurung, perwakilan dari Humas Poldasu. Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, massa yang seluruhnya mahasiswa itu membubarkan diri.(mag-1)

0 Dua Petani Terkapar Dipukul Brimob


SALING DORONG: Personel Brimob bersenjata pentungan dan membawa tameng saling dorong dengan 
Kelompok Tani Desa Manunggal di pintu masuk lahan sengketa, kemarin (3/3).//novan hidayat/sumut pos

SumutPos 


Rekonstruksi Sengketa Lahan di Mabar Ricuh
MABAR-Suasana lahan sengketa di Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan mendadak mencekam, Kamis (3/3) pagi. Dua unit truk, satu bus dan beberapa mobil mendekati lahan seluas 46,11 hektar yang menjadi sengketa antara Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Manunggal dengan PTPN II dan PT KIM II.
Dari truk dan bus turun sekitar 30 anggota Brimob membawa pentungan dan tameng, juga sekitar 10 personil berseragam cokelat. Diantara polisi itu, terlihat Legiman (72), satu dari 70 anggota Gapoktan yang ditangkap dan ditahan Penyidik Polda, 13 Februari 2011 lalu.
Sekitar 20-an warga yang sebelumnya sudah bersiap di gerbang yang membatasi kawasan PT KIM II dan lahan sengketa yang masih digarap warga, ikut bersiap. Demikian juga puluhan warga yang berjaga di Posko Kelompok Tani Mabar, sekitar 100 meter dari gerbang.
Seorang penyidik Sat IV Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Polda Sumut diikuti polisi lain mendekati pagar. Polisi dan warga kemudian berdialog. Polisi minta pagar dibuka karena akan melakukan rekonstruksi lahan. Rekonstruksi dilakukan dalam rangka melengkapi berkas kasus penggunaan data dan surat palsu terkait kasus lahan tersebut dengan tersangka Lagiman.
Warga menolak dan mempertanyakan rekonstruksi lahan tersebut. Suasana makin tegang karena kedua pihak mempertahankan pendapat masing-masing.
”Tolong jangan hadapkan kami dengan permasalahan baru. Kami hanya sebagai penyidik yang menjalan tugas, kami melakukan rekontruksi,” ujar salah seorang dari Polda Sumut.
Perkataan tersebut ditanggapi oleh pihak Kelompok Tani. ”Kami tahu Bapak menjalankan tugas, namun lahan tersebut kan sudah kami menangkan jadi kenapa mesti dilakukan rekontruksi lagi,” ujar seorang anggota kelompok tani.
”Kami bukan teroris, kami bukan penjahat, kami menolak rekonstruksi tersebut,” teriak petani lain.
Suasana makin mencekam setelah beberapa anggota kelompok tani berteriak menuding polisi. ”Pada waktu eksekusi, ke mana pihak kepolisian tidak ada yang melakukan pengawalan. Sekarang pada waktu mau rekontruksi kok ramai sekali polisi yang turun,” ujarnya dan disambut rekan-rekannya.
Dialog gagal. Brimob bersenjata pentungan membawa tameng membentuk formasi untuk mendobrak gerbang. Tak kalah garang, petani bersiap mempertahankan ’kedaulatan’ mereka di gerbang tersebut.
”Woi, ke sini kalian…,” teriak seorang petani kepada rekannya di Pos Kelompok Tani Manunggal. Sejumlah pria dan beberapa wanita mendekat, ikut bertahan di gerbang.
Aksi saling dorong terjadi. Sekitar 30 anggota brimob adu kuat dengan sekitar 20 petani. Aksi saling dorong berlangsung hingg ahampir 10 menit. Oknum Brimob yang disiagakan mengamankan rekonstruksi, ditengarai memukul beberapa anggota kelompok tani. Akibatnya, Napon (46), Kaslan (54) terjerembab dengan kepala berdarah. Sedangkan Wati (37) terjatuh dan pingsan.
Saat itulah polisi mengambil momen dan berhasil mendobrak gerbang bertiang bambu dan berdinding tepas itu. Polisi akhirnya masuk ke lahan garapan. Petani hanya bisa melihat, tidak berani melawan. Sebagian dari mereka kemudian membawa Wati ke pos dan melarikan Napon dan Kaslan ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan.
”Apa kalian tidak kasihan lihat kami, kami rakyat kecil dan tidak bersalah namun kalian mengambil tindakan dengan memukul teman-teman kami,” ujar salah seorang kelompok tani.
Polisi tidak menanggapi ucapan tersebut. Mereka kemudian membawa Legiman yang dikawal dua personel Brimob ke lahan sengketa untuk melakukan rekonstruksi lahan. Rekontruksi tersebut berjalan cepat. Pihak Polda Sumut hanya melakukan rekontruksi dengan menanyakan kepada Legiman atas kepemilikan tanah seluas 46,11 Ha tersebut.
Dari 70 nama anggota Tani Manunggal, Poldasu membacakan nama-nama yang tertera dalam surat yang diduga dipalsukan Legiman dan kawan-kawannya. Polisi kemudian bertanya kepada Legiman, apakah ia tahu lokasi lahan milik Asnan. Legiman menjawab tidak tahu. Pertanyaan tersebut kembali diulang. “Saya tidak tahu (lokasi) tanah-tanah (garapan 70 anggota Gapoktan) itu pasnya di mana karena sudah lama sekali. Saya lupa,” ujar Legiman.
Selanjutnya, setelah menanyakan kepemilikan tanah, Pihak Poldasu menanyakan batas-batas wilayah. ”Apakah Anda tahu batas sebelah selatan dan utara?” Tanya penyidik Polda. Legiman pun menjawab, ”Saya tidak tahu, saya lupa.”
Setelah rekontruksi selesai dilakukan, polisi meninggalkan lahan seluas 46,11 Ha tersebut. Saat Legiman hendak dibawa pihak Polda Sumut tiba-tiba ada seorang wanita sambil menangis langsung memeluk Legiman. ”Apa kabar Pak, sehat kan?” tanya wanita itu sambil menangis. ”Bapak baik-baik saja kok. Ntar lagi Bapak pulang, doakan saja ya,” ujar Legiman.
Kepada Sumut Pos yang menghampirinya, Legiman mengatakan bahwa selama ditahan di Mapolda Sumut, dia diperlakukan sewajarnya. ”Saya ditahan di ruangan penitipan. Saya tidak dipukuli,” ujarnya.
Selanjutnya, pihak kepolisian membawa Legiman pergi dengan mobil jenis Kijang meninggalkan lokasi rekontruksi.
Setelah polisi pergi, petani kembali berkumpul di Posko. Tampak pula Napon, Kaslan dan Wati di posko. Kepada wartawan, Napon mengatakan tidak bisa menerima perlakuan Brimob yang memukulnya. ”Kami di sini untuk mempertahankan lahan kami, malah dipukuli oleh petugas Brimob,” ujarnya sambil memperlihatkan luka di kepalanya.
Tetapi Napon masih ragu apakah dirinya akan membuat laporan terkait penganiayaan tersebut, atau membiarkan saja.
Seorang anggota Gapoktan lain, Senen (70) kembali menegaskan penolakan rekontruksi tersebut. ”Yang jelas kami sudah memenangkan lahan ini. Ngapain lagi harus direkontruksi,” ujarnya.
Senen menambahkan, saat rekontruksi tersebut pihak dari Pengadilan Negri Lubuk Pakam tidak hadir. ”Kemana pihak Pengadilan Negeri Lubuk Pakam pada saat rekontruksi berlangsung,” katanya.
Senen juga kecewa terhadap kinerja pihak kepolisian pada saat rekontruksi tersebut. ”Polisi tidak melakukan pengamanan, malah terjadi bentrok yang menimbulkan korban,” tandasnya.
Anggota kelompok tani tersebut merencanakan mendatangi Pengadilan Negeri Medan, untuk mengikuti persidangan Prapid Legiman melawan Kapolda Sumut, Jumat (4/3). ”Kami akan datang beramai-ramai ke pengadilan untuk memberi dukungan kepada Legiman dan mendengarkan keputusan pengadilan,” ujarnya Senen.
Ia berharap penegak hukum bisa mengambil sikap seadil-adilnya. ”Saya minta hakim dan jaksa memberikan keutusan yang tepat,” tandasnya.
Kuasa Hukum PT KIM II Risuddin Gultom SH yang terlihat hadir di lokasi mendukung proses rekonstruksi di lahan seluas 46,11 hektar tersebut. Saat rekonstruksi, Legiman tidak bisa menunjukkan batas lahan dan bagian-bagian mana saja yang menjadi lahan sengketa. ”Saya tidak bisa berkomentar lebih banyak. Kita serahkan saja semuanya ke penegak hukum dalam hal ini pihak kepolisian dan juga pengadilan,” ujarnya.
Ditemui terpisah Kapoda Sumut Irjen Pol Oegroseno membantah ada anggotanya yang melakukan pemukulan petani di lahan tersebut sebelum rekonstruksi. ”Saya yakin, aparat Brimob saya tidak seperti itu. Kalau memang ada harus segera dilaporkan. Kalau tidak, nantinya hanya isu saja,” katanya di sela-sela pertemuan dengan para rektor universitas se-Kota Medan di Hotel Grand Aston Internasional, kemarin.
Pria yang sebentar lagi menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri tersebut meminta warga tersebut melapor ke Propam Polda. ”Jadi, kalau tidak ada laporan maka saya berani jamin itu hanya isu. Sekali lagi, kalau tidak ada laporan maka saya berani jamin itu hanya isu,” tutupnya.
Sementara itu, Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Heri Subiansaori juga mengarahkan warga yang mengaku dipukul anggota Brimob sebelum rekonstruksi lahan untuk segera melapor. ”Bila terbukti akan dilakukan tindakan,” ujarnya usai bertemu dengan tamunya di Hotel JW Mariot.(mag-11/mag-1/ari)

Delete this element to display blogger navbar

 
© 2010 Koran Medan is proudly powered by Blogger