0 Rahmat Shah: Jepang Beri Kita Banyak Pelajaran

Medan, (Analisa)
Anggota DPD RI utusan Sumatera Utara, Dr. H. Rahmat Shah menyatakan keprihatinannya atas bencana alam gempa bumi berkekuatan 8,9 SR dan tsunami yang melanda Jepang (11/03).
Bagi Rahmat, musibah yang terjadi di Jepang kali ini sangat menyentuh hatinya mengingat akhir Februari lalu, baru saja dirinya memimpin rombongan lawatan kenegaraan DPD RI ke daerah yang terkena bencana tersebut.
Pada pesannya yang dikirim kepada para pejabat daerah setempat yang mengalami bencana, beliau menyatakan keprihatinan dan rasa dukacita yang mendalam seraya mengharapkan agar masyarakat yang menjadi korban, diberi kekuatan dan ketabahan serta mendapat kemudahan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Sehubungan hal itu DPD RI menyampaikan ucapan belasungkawa atas musibah yang menimba rakyat Jepang ini," ujar Rahmat Shah sembari menyampaikan ucapan serupa kepada rekannya Konjen Jepang di Medan. Semoga rakyat Jepang tabah dalam menghadapi cobaan maha berat ini, tambah Rahmat.
Alam menyimpan misteri
Menurut Rahmat, alam senantiasa menyimpan misteri yang tidak dapat ditebak, menimbulkan hal-hal di luar perkiraan dan di luar kemampuan manusia. Sehingga, walaupun bencana gempa seperti ini dapat diprediksi sebelumnya, namun para ilmuwan masih belum dapat menentukan kapan kejadiannya dan seberapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi.
Karenanya dibutuhkan kearifan untuk dapat bersahabat dengan alam dan lingkungan.
Di sisi lain, Rahmat menilai bahwa kesiapan bangsa Jepang dalam menghadapi bencana dapat dijadikan pelajaran bagi bangsa ini. Situasi yang dihadapi dengan tenang, tidak panik dan tidak memikirkan diri sendiri sangat membantu aksi tanggap darurat yang dilakukan masyarakat disana. Karenanya, jumlah korban sangat mungkin untuk diminimalisir.
Lebih jauh, menurut pengamatannya, Rahmat melihat bahwa budaya pemerintahan di Jepang telah berhasil menciptakan sistem yang melibatkan peran serta segenap komponen masyarakat di dalam aktivitas pembangunan. Proses check and balance yang telah berjalan serta didukung oleh budaya disiplin yang tinggi berhasil mengantarkan Jepang ke arah kemajuan pasca hancur leburnya negeri itu setelah Perang Dunia II lalu.
Rahmat juga mengaku terkesan melihat kenyataan bahwa salah satu jembatan terpanjang di dunia ternyata bukan berada di pusat negara ataupun kota-kota besar utama di Jepang, informasi yang didapatkannya justru mengatakan bahwa jembatan tersebut berada di kota ke-5 terbesar di Jepang.
Artinya, kebutuhan pembangunan, bukan berdasarkan keinginan untuk mengembangkan kota besar saja, tapi lebih didasarkan pada kebutuhan setempat. Dan ini menjadi gambaran bagi adanya pemerataan pembangunan.
Bagi Rahmat, konsep pembangunan seperti ini merupakan sesuatu hal yang masih jauh untuk dapat dilihat dari pelaksanaan pembangunan di negara ini. (rel/hers)

0 Gerakan Pramuka Miliki 70 Juta Anggota


Medan, (Analisa)
Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka H. Azrul Azwar mengatakan, 20 persen APBD dan APBN yang dialokasikan untuk pendidikan, semestinya juga mengalir ke Gerakan Pramuka. Karena itu, seiring Revitalisasi Gerakan Pramuka, pemerintah pusat dan daerah harus mendanai pendidikan pramuka.
"Revitalisasi Gerakan Pramuka sudah dicanangkan presiden RI sejak 14 Agustus 2006. Hal ini harus menjadi perhatian serius, sebab kemajuan Pramuka adalah untuk membangun karakter, kepribadian dan akhlak mulia bagi generasi muda," ungkapnya pada pembukaan Musyawarah Daerah Gerakan Pramuka (Musda) Sumut 2011 di Asrama Haji Pangkalan Mansyur Medan, Selasa (15/3).
Dikatakan, hingga kini Gerakan Pramuka memiliki 70 juta anggota yang terkonsentrasi di 275 ribu gugusdepan. Meskipunn memiiki kuantitas yang banyak, namun Gerakan Pramuka bukan suatu organisasi massa.
Demikian pula, meskipun yang dibina adalah generasi muda, namun tidak berarti menjadi organisasi kepemudaan.
Azrul Azwar menegaskan, substansi revitalisasi Gerakan Pramuka yakni mengaktifkan kembali semua jajaran Gerakan Pramuka untuk dapat mengatasi persoalan generasi muda. "urgensinya, revitalisasi untuk merestorasi pendidikan kepramukaan.
Gerakan Pramuka dituntut mampu menjawab dan menjadi tameng bagi semua persoalan yang kini dihadapi generasi muda."
Tujuan Utama
Makna terpenting dari revitalisasi, imbuhnya, yakni demi terwujudnya tujuan Gerakan Pramuka yang terkonsentrasi pada tiga pilar utama.
Pertama, membentuk karakter generasi muda yang dicapai melalui pendidikan nilai-nilai seperti yang tercantum dalam Dasa Darma Pramuka.
Kemudian untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan bela negara. Juga untuk meningkatkan keterampilan anggota Pramuka, sehingga bermanfaat bagi diri sendiri dan berguna bagi masyarakat luas.
Di tempat sama, Wakil Gubsu Gatot Pujonugroho selaku Waka Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka Sumut (Mabidasu) yang membuka musyawarah itu mengingatkan, Musda 2011 yang bertemakan, "Satu Pramuka untuk Satu Merah Putih" itu harus mampu melahirkan program kerja yang terukur bagi pengurus ke depan.
Kakak-kaka
"Dalam menyusun program, kami berharap Kakak-kaka dapat memperhatikan aspirasi yang berkembang. Sehingga kelak, musda ini dapat memberikan manfaat bagi kemajuan Gerakan Pramuka," ungkapnya.
Gatot yang disebut-sebut menjadi salah satu kandidat calon Ketua Kwardasu itu juga mengimbau, agar jajaran kwartir cabang se-Sumut yang secara keseluruhan mengikuti Musda 2011 itu bisa membawa perubahan ke arah yang lebih maju. Terlebih dalam mengimplementasikan program kerja yang disusun nantinya.
30 Kwarcab
Di hadapan unsur Muspidasu yang merupakan unsur pengurus Mabidasu, Bupati Deli Serdang Amri Tambunan, pengurus mabicab, pengurus kwarcab se-Sumut, dan undangan lainnya, Ketua Kwardasu Amansyah Nasution melaporkan jika Musda 2011 itu diikuti 30 kwartir cabang (kwarcab).
Masing-masing kwarcab mengutus 8 orang dari unsur andalan dan mabi. Pada musda yang berlangsung dua hari itu, sejumlah nama kandidat muncul untuk menjadi calon Ketua Kwardasu. Di antaranya Gatot Pujonugroho, Rajiman Tarigan, M. Syafi’I, dan Bahdin Nur Tanjung.
Usai pembukaan, Rajiman Tarigan kepada wartawan membenarkan jika dirinya akan maju ke pencalonan ketua. "Saya siap jika diamanhkan.
Tetapi jika tidak terpilih, saya tidak akan memaksakan diri. Sebab siapapun yang memimpin nantinya, yang penting mampu memajukan Gerakan Prauka dan lebih memperhatikan pembinaan di gugusdepan."
Sementara, pembukaan musda juga dirangkai dengan sosialisasi UU RI Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka oleh Ketua Kwarnas Azrul Azwar. Dalam paparannya, masih banyak yang harus dilakukan agar UU tersebut bisa efektif. Di antranya harus dilengkapi dengan peraturan pemerintah (PP), padahal UU itu tidak mengamanatkan adanya PP melainkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.
"Beberapa pasal juga masih perlu ditinjau ulang," kataya sembari mengimbuhkan karena adanya bebrapa hal yang mutitafsir. Layaknya masalah larangan pejabat publik untuk menjadi ketua kwartir. (rio)

0 Arogan, Kepsek Dituntut Mundur

SumutPos
MEDAN- Guru-guru dan siswa  SDN No 060870 Center 1, Jalan Gunung Krakatau, Kecamatan Medan Timur, mogok belajar untuk menuntut agar kepala sekolah mereka Dra Hj Rosita Ainun Mpd, dicopot, Senin (14/3). Tuntutan itu didasari atas sikap oknum kepala sekolah tersebut yang bersikap arogan dan kerap mengeluarkan kata-kata kasar, baik kepada Siswa maupun kepada guru-guru di sekolah tersebut.
Aksi itu sendiri dimulai sekira pukul 08.00 WIB, seusai pelaksanaan upacara bendera. Layaknya aksi demonstrasi pada umumnya yang dilakukan para aktivis, para guru dan siswa juga membentangkan poster-poster yang menentang keberadaan Hj Rosita Ainun yang telah 13 tahun menjadi Kepsek di sekolah itu untuk mundur.
Sementara itu, Rosita Ainun yang berada di ruang kerjanya tidak bersedia dikonfirmasi. Wartawan koran ini bahkan sampai beberapa kali untuk mengkonfirmasi hal tersebut, bahkan sampai memanjat jendela, namun Rosita hanya bungkam dan menutup wajahnya dengan sebuah map warna merah jambu, dan tangannya hanya memainkan HP nya. (ari/mag-8)

0 Jangan Tanya Lagi, Nanti Saya Nangis…

SumutPos
Oegroseno Titip Kasus Zainal Abidin dan Penganiayaan Anak
MEDAN- Kapoldasu Irjen Pol Oegroseno mengaku sedih untuk meninggalkan Sumatera Utara. Pasalnya, cukup banyak kenangan manis yang dialaminya sejak menjabat orang nomor satu di Polda Sumut.
Saat ditemui di ruang VIP Bandara Polonia sembari menunggu keberangkatan pesawat, Minggu (13/3) siang pukul 13.20 WIB, Oegroseno bersama sejumlah pejabat teras Poldan Sumut di antaranya, Kabid Propam Kombes Pol Edi Napitupulu, Dir Binmas Kombes Pol Heri Subiansaori, Karo SDM Kombes Pol Husin Hamidi, Dansat Brimob Kombes Pol Verdianto I Bitti Caca dan Karo Ops Kombes Pol Iwan H Sugiarto. Sementara, para pejabat teras lainnya tidak terlihat ikut mengantar Oegreseno yang rencananya akan menjabat Kalemdiklat Polri.
Saat itu, Oegreseno meminta kepada wartawan yang ada di ruangan itu untuk tidak bertanya, karena dia mengaku sangat sedih meningggalkan Sumut yang sudah menjadi satu keluarga baginya. “Tidak usah nanya lagi lah, nanti saya nangis. Karena saya pun sudah tidak menguasai bahan lagi. Sumut itu sudah menjadi keluarga bagi saya, karena Sumut sudah cukup terbuka dan masyarakatnya mudah diajak berdialog,” ujarnya sambil mengenang saat-saat melakukan pengejaran kelompok bersenjata api di Dolok Masihul. Saat itu, Oegreseno belum mandi, makanya hujan turun saat itu.
Oegreseno yang masih tiga tahun lagi pensiun dari Polri ini mengaku sangat ingin mengubah citra Polri. Kerenanya, Oegreseno selalu menunjukkan sikap tegas terhadap anggotanya dan menginstruksikan agar anggotanya terus memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat. Karena Polri merupakan pengayom dan pelindung masyarakat.
“Masyarakat di Sumut sangat baik, diharapkan kedepannya Polri dapat betul-betul memberikan pelayanan terhadap masyarakat Sumut agar tetap kondusif,” ucapnya dengan nada rendah. Dia juga mengungkapkan, alasan dirinya tertantang untuk ke TKP saat penyerangan di Dolok Masihul, karena ingin melihat senjata anak buahnya yang di bawa lari kelompok bersenjata usai membunuhnya di CIMB Niaga Medan.
Sebelumnya, Oegroseno juga meminta agar kasus penembakan jukir Zainal Abidin diutamakan, meski dia tak lagi bertugas di Sumut. Dia memerintahkan penyidik Dit Reskrim Poldasu segera mengajukan pidananya kepada mantan Kapolsekta Medan Kota AKP Darwin Ginting, terkait penembakan juru parkir Zainal Abidin Nasution dituduh membunuh Komisaris PT Sewangi Sejati Luhur, Kesuma Wijaya.
“Kasus pidana AKP Darwin Ginting dan anggotanya harus didahulukan sampai ke
pengadilan dari pada sidang kode etiknya,” ujarnya. Menurut Oegreseno, penembakan Zainal Abidin sangat fatal dan telah melanggar prosedur serta dikatagorikan pelanggaran HAM berat. “Saya tegaskan, perbuatan pidana mereka yang harus dituntas dulu, baru proses internal,” ucapnya lagi.
Dikatakannya, AKP Darwin Ginting yang diduga memberi perintah kepada bawahannya untuk mengeksekusi Zainal Abidin hingga menderita luka tembak sebanyak tiga kali di kakinya harus bertanggung jawab atas perbuatan itu. “Zainal kan sudah dibawa ke kantor polisi, kok dibawa jalan-jalan dan ditembak, itu salah total,” cetusnya.
Tak cuma itu, Oegroseno juga meminta Polresta Medan dan Polsekta Percut Sei Tuan serius dan segera menuntaskan kasus penganiayaan terhadap anak di bawah umur.
Dimana, menurut Oegreseno dalam penanganan kasus kasus penganiayaan ini terjadi sudah dari bulan Juli 2010 tersebut sangat tidak masuk akal karena keduanya saling melapor dan sudah P21 (berkas lengkap, Red) oleh Kejatisu.
“Kasus tersebut sangat tidak masuk akal. Herannya, penanganan kasusnya di Polsek itu (Polsek Percut Seituan, Red) mengapa dinyatakan lengkap (P21) keduanya. Seharusnya kasus tersebut ditangani dengan teliti seluruh berkasnya. Karena kan si anak sebagai korban yang membuat pengaduan dan malah sebaliknya, si pelaku juga buat pengaduan yang sama. Jadi ada dua laporan, bagaimana ini bisa sama-sama P21. Yang dua pengaduan itu biasanya lakalantas. Ini kok malah penganiayaan,” ujarnya.
Selain itu, Oegreseno yang menitipkan pesan kepada Karo Ops Kombes Pol Iwan H Sugiarto untuk disampaikan ke Kapolsekta Percut Sei Tuan yang dimintanya untuk serius menangani kasus penganiayaan tersebut. “Meski memang harus penyidiknya dipantau dan diberi peringatan,” ungkapnya dengan sedikit kekesalan.
Sebelumnya, Oegroseno mendapat plakat dari Expedition Trail Mania Indonesia (Xtrim) di kantor Sekretariat Xtrim Sumut Jalan Balam No 42, Kecamatan Medan Sunggal, Minggu (13/3). Bahkan, dalam kesempatan itu, dia sempat menyanyikan sebuah lagu Batak berjudul “Boasa Ikon Pajumpang”.
Pada kesempatan itu pula, Oegroseno menitipkan pesan kepada Xtrim Sumut pimpinan Dody agar Xtrim menjadi wadah klub-klub motor di Sumut, untuk menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). “Xtrim harus bisa mengkampanyekan tertib berlalulintas. Dapat membedakan kegiatan di lapangan dan di kota. Bisa menjadi wadah untuk cara berlalu lintas yang baik dan benar,” katanya.
Di akhir acara, Oegroseno yang ditanyai mengenai masa akhir jabatannya, enggan memberi komentar. Dan dirinya tampak terburu-buru, karena hendak berangat ke Jakarta dalam rangka mengikuti acara pelantikkan dirinya di Markas Besar (Mabes) Polri. “Senin saja yah,” katanya singkat.
Pada acara itu pula, Wali Kota Medan Rahudman Harahap mengucapkan terima kasih atas banyak persoalan kriminal yang terselesaikan di Medan saat Oegroseno menjadi Kapodasu. “Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Oegroseno, yang telah banyak membantu kami dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kriminal. Misalnya, keberadaan geng-geng motor yang ada beberapa waktu lalu serta persoalan lainnya. Dan saya ucapkan selamat, atas jabatan baru yang disandang di Jakarta,” katanya saat memberikan sambutan.(adl/ari)

0 Situs Kota Cina akan diteliti

Waspada Online
MEDAN - Situs Kota Cina di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan akan diteliti secara komprehensif, menyusul penelitian pendahuluan yang telah dilakukan dua arkeolog asing Daniel Perret dan McKinnon pada akhir Februari 2011.

Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed) Erond Damanik di Medan, siang ini mengatakan, pada 22-25 Februari 2011 dua orang arkeolog berkebangsaan asing telah melakukan penelitian pendahuluan di Situs Kota Cina, Medan Marelan.

Perret adalah peneliti dari Ecole Francaise D`Extreme Orient (EFEO) Prancis dan McKinnon merupakan peneliti berkebangsaan Inggris. Penelitian dilakukan dengan melibatkan mahasiswa Unimed sebagai tenaga lapangan.

Tujuan penelitian tersebut adalah untuk melakukan survey permukaan terhadap jejak perdagangan internasioal yang pernah eksis di Kota Cina seperti fragmen keramik, tembikar, dan mata uang yang menjelaskan eksistensi dari situs tersebut pada abad ke-12 hingga abad 14 Masehi, katanya.

"Hasil penelitian pendahuluan atau pra penelitian tersebut nantinya akan dijadikan sebagai rujukan atau pedoman untuk melakukan penelitian komprehensif atau ekskavasi terhadap Kota Cina yang direncanakan berlangsung April 2011 mendatang," katanya.

Staf peneliti di Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed ini mengatakan, jika penelitian secara komprehensif tersebut jadi dilakukan, maka hal itu akan mendukung penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh McKinnon pada 1972 hingga 1978.

Menurut dia, sebagaimana yang dikemukakan McKinnon dalam disertasinya tentang perdagangan internasional di Pantai Timur Sumatera Utara, bahwa Kota Cina berasal dari abad 12 hingga 14 Masehi dan ramai dikunjungi berbagai bangsa seperti dari China, Arab, Vietnam, Thailand, Burma dan Aceh.

"Dengan demikian, pemerintah Kota Medan seharusnya memberikan apresiasi yang sama atau mendanai penelitian yang dilakukan oleh penelitian lokal seperti Balai Arkeologi Medan sehingga informasi penelitian tentang Kota Cina tetap menjadi milik bangsa Indonesia," katanya.

Sebelumnya, Kepala Pussis Unimed Dr Phill Ichwan Azhari mengatakan, tim arkeolog dari Perancis dan Inggris tersebut dalam penelitian awalnya di situs itu berhasil mendapatkan temuan baru berupa struktur bangunan kono seluas 2x3 meter yang diperkirakan dulunya merupakan sisa-sisa bangunan suci.

Kemudian juga ditemukan dua arca yang kondisinya tidak lagi utuh. Penelitian tersebut berlangsung 22-25 Februari 2011 untuk pemetaan dan identifikasi situs. Selanjutnya bulan April 2011 mendatang akan dilakukan eskavasi oleh tim arkeolog secara lebih intensif.
Editor: SASTROY BANGUN
(dat03/wol/antara)

0 Korban Penganiayaan Jadi Tersangka

SumutPos
Lagi, Pemutarbalikkan Kasus di Polisi Terungkap
MEDAN-Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga, memimpin sidang gelar kasus dugaan pemutarbalikkan kasus penganiayaan yang dialami Nurliah (32), warga Jalan Simpang Lolom, Gang Mesjid Dusun IV, Percut Seituan, Deli Serdang, Sabtu (12/3) pukul 15.00 WIB.
Dalam kasus yang terjadi 12 Juli 2010 lalu itu terungkap, awalnya Nurliah berstatus sebagai korban pelaporn
atas penganiayaan anaknya Muhammad Alfariji (9), yang dilakukan tetangganya, Jumain (25) di Polsekta Percut Seituan.
Tapi, Jumain tidak senang, lalu balik mengadu ke Polsek dalam kasus yang sama. Akhirnya, Nurliah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Kini berkasnya dinyatakan sudah P21 oleh pihak kejaksaan.
Nurliah mengatakan, dirinya tidak menyangka kejadian yang dialaminya berbalik dari kenyataan. “Sungguh malang nasibku ini hanya karena aku orang yang tidak punya uang dan kekayaan, hukum juga tidak berpihak kepada saya walau tindakanku benar,” ujar Nurliah menitikkan air mata sembari menggendong anaknya yang masih berusia 3 tahun.
Dikatakannya, aparat penegak hukum yang seharusnya melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat dan seharusnya berpihak pada kebenaran justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya.
“Hukum ini ternyata hanya berpihak kepada orang kaya yang punya uang banyak, aparatnya hanya berani menindak yang kecil-kecil seperti saya kalau yang besar-besar tidak berani,” kata Nurliah.
Menurutnya, awal kejadian itu terjadi saat anaknya Muhammad Alfariji (9) sedang bermain ketapel burung dengan teman-teman sebayanya tak jauh dari rumahnya. Namun secara tidak sengaja peluru ketapel salah seorang temannya nyasar ke rumah Jumain. Kemudian Jumain marah-marah kepada Muhammad Alfariji dan teman-temannya.
Alfariji dan teman-temanya pun langsung lari. Saat lari baju Muhammad Alfariji  tersangkut di pedal sepeda motor yang tidak jauh dari tempat mereka bermain sehingga korban jatuh dan tertangkap oleh Jumain.
Setelah tertangkap, pelaku langsung memukuli Alfariji hingga memar-memar dan mengalami pembengkakan di kuping korban, sehingga korban menangis dan mengadukan pemukulan yang dilakukan oleh Jumain kepada ibunya Nurliah yang saat itu sedang berada di rumah.
Melihat anaknya mengalami memar-memar dan menangis, ditemani ibunya kemudian mendatangi rumah Jumain. Namun, ibu dan anak ini malah dianiaya Jumain hingga mengalami luka memar. Karena postur tubuh Jumain lebih besar, sehingga keduanya tak kuasa melawan dan mengadukan kejadian itu ke Polsekta Percut Seituan dengan No LP/1545/VII/2010/TBS Percut Seituan tertanggal 12 Juli 2010 pukul 16.30 WIB.
Laporan tersebut kemudian diterima oleh Aiptu Jhony dan selanjutnya diperiksa. Saat itu Kapolsekta Percut Situan dijabat oleh AKP Josua.
“Tapi anehnya, masak aku yang melapor ke polisi kok jadi aku yang dituduh polisi melakukan penganiayaan. Padahal, bukti visum ku ada, dan anak saya pun ada bukti visumnya tetapi malah aku yang dipanggil polisi sebagai pelakunya dan akan dilimpahkan berkasnya ke JPU di Kejari Lubuk Pakam. Ini sangat aneh,” jelasnya sembari menunjukkan bukti surat panggilan polisi kepadanya.
Polsekta Percut Seituan memanggil Nurliah dengan No Surat Pgl/326A/III/2011/Reskrim dalam surat panggilan tersebut Nurliah di minta untuk datang ke Polsekta Percut pada tanggal 15 Maret mendatang, agar berkas dan kasusnya dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cabang Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam di Labuhan Deli dalam rangka perkara tindak penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 (1) KUHP dengan Nurliah sebagai pelakunya.
Ditambahkanya, setelah mengadukan kejadian itu ke polisi dirinya juga telah melaporkan penganiayaan yang dialami anaknya tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut.
“Aku juga telah melaporkan kejadian ini ke KPAID, namun belum juga ada tanggapan dari pihak KPAID,” tambah Nurliah.
Pengacara Nurliah, Hasbi Sitorus SH mengatakan, kasus yang menimpa kliennya itu memang aneh. Pasalnya, pelaku yang seharusnya diproses secara hukum justru terbebas dari jeratan hukum.
“Aneh sekali ini korbanya yang jadi tersangka. Darimana jalannya itu. Apa memang begini hukum di Indonesia ini?” kata Hasbi. “Bukan itu saja pelakunya malah berkeliaran dan berani pula dia bilang polisi sudah saya bayar, Kemana lagi kalian mau mengadu. Hebat kali dia bah,” sambung Hasbi Sitorus.
Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga SH mengatakan, akan menindak tegas setiap anggotanya jika terbukti melakukan kesalahan. “Pasti saya tindak dong, tetapi dengan catatan jika itu terbukti bersalah,” kata Tagam. (mag-8)

0 Penertiban Babi Diwarnai Letusan Senjata dan Hujan Batu

 HISTERIS: Dua ibu berteriak histeris melihat petugas mengamankan
7 ekor hewan kaki empat milik rekan mereka dalam eksekusi 
di Mandala, kemarin.//triadi wibowo/sumut pos
SumutPos

5 Warga dan 3 Aparat Luka
MEDAN- Seperti yang telah diprediksikan sebelumnya, penertiban ternak kaki empat di Jalan Tangguk Bongkar 9, Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai, Kamis (10/3) akhirnya berlangsung ricuh. Sekitar 540 personel gabungan satpol PP, Brimobdasu, SabharaPolresta Medan dan personel TNI AD dihadang warga. Barikade petugas dihadang dengan lemparan batu.
Dalam eksekusi ini, terjadi bentrok antara warga dan petugas hingga terjadi hujan batu dan tembakan senjata api ke udara. Lima warga terluka dalam bentrok dan dua anggota Satpol PP terluka di kepala akibat lemparan batu. Sementara itu, satu gigi Drs Suangkupon Siregar, Lurah Denai, copot dan bibirnya pecah. Suangkupon menduga, luka itu akibat pukulan warga saat terjadi bentrok.
Wakil Ketua DPRD Medan August Napitupulu beserta anggota DPRD Sumut Tagor Pandapotan Simangunsong kemudian tiba di lokasi dan melakukan dialog dengan Kadistanla Medan Ir Wahid, Kasatpol PP Kriswan, Camat Medan Denai Edhie Mulya dan perwakilan pihak keamanan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, eksekusi hewan ternak kaki empat itu dilanjutkan hari ini, Jumat (11/3).
Penertiban ini dihadiri Assisten Pemerintahan (Aspem) Pemko Medan Daudta Sinurat, Kepala Bagian Hukum Iwan Habibi, Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Pemko Medan Ir Wahid, dan Camat Medan Denai Edhie Mulya. Para petugas terdiri dari personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemko Medan dibantu personel Polresta Medan dan Brimobdasu serta personel TNI. triadi wibowo/sumut pos
HISTERIS: Dua ibu berteriak histeris melihat petugas mengamankan 7 ekor hewan kaki empat milik rekan mereka dalam eksekusi di Mandala, kemarin.
Sebelum eksekusi dilakukan, pihak-pihak yang terlibat berkoordinasi di Kantor Camat Medan Denai di Jalan Pancasila. Sebelum menuju ke lokasi penertiban, para petugas dibriefing oleh Camat Medan Denai Edhie Mulya. Setelah itu, dengan menggunakan kendaraan para petugas menuju ke area ternak babi di Kelurahan Tegas Sari Mandala II.
Warga juga sempat menghentikan mobil yang membawa personel Brimobdasu dan Satpol PP. Rute menuju Tangguk Bongkar 9 kemudian dialihkan melalui Jalan Selam VI.
Belum lagi masuk ke lokasi, para petugas sudah dihadang warga yang mempersenjatai diri dengan batu.
Keadaan pun semakin rusuh, yang pada akhirnya membuat para petugas dari Satpol PP dan personel Brimobdasu membuat barikade di Jalan Mandala By Pass dekat Simpang Jalan Tangguk Bongkar 9.
Setelah memasang barikade, para petugas tersebut secara perlahan memasuki lokasi eksekusi. Bentrok tak terelakkan. Sekitar pukul 09.20 WIB, saat 550 petugas gabungan merangsek masuk dari Jalan Mandala By Pass ke Jalan Tangguk Bongkar 9, langsung dihadiahi lemparan batu oleh warga. Beberapa tameng Satpol PP pecah karena hantaman batu dari para warga.
Hujan batu dan kayu pun terjadi, bahkan sempat ada warga yang berupaya untuk menerobos barikade Satpol PP Medan, namun akhirnya tertangkap dan diamankan. Dua orang orang yang tertangkap tersebut yakni, Aloysius dan Fredy.
Saat kondisi genting, terdengar suara letusan senapan api dari pistol petugas tanda peringatan. Namun, letusan yang terdengar beberapa kali tersebut sama sekali tidak diindahkan oleh warga. Perlawanan terus berlangsung.
Merasa tertekan, akhirnya warga mundur dan masuk ke pemukiman yang juga lokasi ternak kaki empat yakni, Jalan Tanggok Bongkar 6, 7 dan 8.
Memasuki kawasan tersebut, kembali perlawanan warga terjadi. Lagi-lagi, hujan batu kembali terjadi. Perlawanan terus berlangsung. Petugas gabungan yang bertugas terpencar. Ada yang menuju Jalan Tangguk Bongkar 6, 7 dan 8. Namun, di Jalan Tangguk Bongkar 7 tepatnya di depan Gereja Pantekosta, para petugas tidak bisa masuk ke area pemukiman dan ternak babi, karena akses jalan tersebut diblokir warga.
Bentrok cukup hebat terjadi di Jalan Tangguk Bongkar 6. Pontius Manullang dan Supriadi, personel Satpol PP Medan terkena lemparan batu di bagian kepala. Keduanya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah di Jalan Mandala By Pass untuk menjalani perawatan. Keduanya kemudian dibawa ke RS Pirngadi Medan.
Menurut Kepala Satpol PP Pemko Medan Kriswan, lemparan yang mengenai anggotanya itu berasal dari atas. “Ada warga yang dari atas rumah melemparnya, jadi tidak terantisipasi. Akhirnya, petugas kita kena di bagian kepala,” katanya saat ditanyai Sumut Pos ketika di Kantor Camat Medan Denai.
Selain korban dari Satpol PP, Lurah Kelurahan Denai Suangkupon Siregar juga cedera. Bibir sebelah kanannya robek dan salah satu giginya tanggal. Suang juga dievakuasi ke Rumah Sakit Muhammadiyah. “Bibir saya tiba-tiba perih. Saya yakin akibat pukulan tangan,” kata Suangkupon kepada wartawan di RS Muhammadiyah.
Ketika petugas mampu menguasai keadaan. Ketika petugas Satpol PP hendak mengangkut tujuh ekor babi milik Amizah Br Sihombing di Jalan Tangguk Bongkar 6 No 35, para warga kembali melakukan perlawanan. Teriakan-teriakan penolakan warga terus menggema. Bahkan, warga sempat melambaikan Bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar.
Saat para personel Satpol PP telah berhasil mengevakuasi tujuh babi dari rumah tersebut, hewan kaki empat yang dimasukkan di keranjang itu diletakkan di badan jalan menunggu kendaraan pengangkut tiba. Perlawanan dari warga kembali terjadi. Salah seorang pemuda dengan berani mengambil keranjang-keranjang yang memuat babi-babi tersebut.
“Keranjang ini bukan milik pemerintah. Keranjang ini punya kami, mau kalian curi keranjang kami ini, lepaskan,” kata pemuda tersebut.
Setelah dilepas, seekor babi hitam berukuran besar berupaya untuk lari. Namun, langsung dipegang oleh tujuh orang Satpol PP. Tak lama berselang, mobil pengangkut babi tiba di lokasi dan mengangkut tujuh babi milik warga tersebut.
Setelah itu, penertiban sempat terhenti. Bahkan, para Satpol PP masing-masing bertanya, apakah penertiban tersebut akan diteruskan atau tidak. Apalagi, para warga juga meminta, penertiban yang dilakukan jangan hanya milik warga, tapi harus juga milik kepala lingkungan 6, Hendrik Manulang.
“Jangan punya kami saja, punya Keplingnya juga harus diambil. Dia yang menerima uang,” kata warga kepada Sumut Pos, sembari menunjukkan rumah Hendrik Manullang.
Sementara itu, beberapa warga yang masih emosi terus berteriak dan memaki-maki Pemko. Pasalnya, pengevakuasi tujuh babi dari rumah milik Amiza br Sihombing tersebut, tanpa diketahui pemiliknya. “Pemerintah maling, pemerintah maling, pemerintah maling,” teriak warga.
Sekira pukul 11.00 WIB, terlihat Wakil Ketua DPRD Medan August Napitupulu beserta anggota DPRD Sumut Tagor Pandapotan Simangunsong muncul di tengah-tengah lokasi ternak babi yang akan ditertibkan.
August bergabung dengan warga yang memblokir Jalan Tangguk Bongkar 7, sementara Tagor Pandapotan Simangunsong yang membawa-bawa map, sibuk menemui Kadistanla Medan Ir Wahid dan Kasatpol PP Medan Kriswan. Mereka kemudian berdialog di Kantor Lurah Kelurahan Tegal Sari Mandala I.
Saat menuju kantor lurah tersebut, bak pahlawan, kedua anggota dewan tersebut dielu-elukan oleh warga. Kurang lebih setengah jam, tepatnya pukul 11.30 WIB, August Napitupulu, Tagor Pandapotan Simangunsong, Kadistanla Medan Ir Wahid, Kasatpol PP Kriswan, Camat Medan Denai Edhie Mulya dan dari pihak kepolisian terlihat keluar dari ruang lurah tersebut. Anehnya, Aspem Pemko Medan Daudta Sinurat dan Kabag Hukum Pemko Medan Iwan Habibi tak terlihat lagi.
Pada saat itu, Kriswan menyatakan, akan tetap melakukan penertiban. “Kita akan lanjut,” tegasnya.
Namun, ternyata penertiban tidak jadi dilanjutkan. Karena, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan lainnya.
Saat Kadistanla Medan Wahid keluar dari ruangan lurah, dia langsung diserbu para wartawan dan beberapa warga. Melihat Kadistanla dikepung seperti itu, tampak beberapa orang dari pihak kecamatan dan kelurahan berupaya melindunginya. Wahid langsung dibawa seseorang yang mengenakan pakaian aparat kelurahan dengan sebuah sepeda motor, menuju ke kantor Camat Medan Denai.
Di kantor camat tersebut, Kasatpol PP Kriswan dan Kadistanla Medan Wahid berdikusi mengenai penertiban yang tidak berjalan lancar tersebut. Kriswan menuturkan, penertiban tersebut terkendala keberadaan dua anggota dewan tersebut. “Ya, karena ada dua anggota dewan itu akhirnya warga jadi bersemangat lagi untuk melawan. Sebenarnya tadi sudah bisa terkendali. Dan saya sudah tegaskan, akan melanjutkan penertiban ini,” katanya kepada Sumut Pos di kantor Camat Medan Denai.
Sementara itu, Kadistanla Medan Wahid menyatakan, penertiban dihentikan dulu dan akan dilanjutkan hari ini, Jumat (10/3). “Kita istirahat dulu, besok kita lanjutkan lagi,” katanya kepada Kasatpol PP Kriswan.
Kriswan menyatakan, akan menerapkan strategi yang lebih baik, agar tidak lagi terjadi kegagalan. “Memang tadi ada mis komunikasi. Besok (hari ini, Red), kita akan siapkan strateginya lebih baik lagi,” cetusnya.
Sekira pukul 13.00 WIB, lima warga korban insiden dirujuk ke RSU Pirngadi Medan. Sejumlah wara yang luka meski mengaku tidak melakukan perlawanan telah melapor ke Polresta Medan dengan surat tanda bukti lapor No STPL/641/III/SU/Resta Medan tertanggal 10 Maret 2011.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Medan Ahmad Parlindungan Batu Bara kepada wartawan menyatakan, oknum dewan yang memanfaatkan situasi ini sama artinya hanya mencari popularitas dan menolak aturan yang telah dibuat dan disahkan DPRD.
“Peraturan sudah ada, tidak ada bagi siapapun untuk tidak mematuhi itu. Perda sudah, ada perwal sudah ada, musyawarah sudah dilakukan. Jangan ada yang mengambil keuntungan dari sini, hanya mengambil popularitas, lantas peraturan tidak dilaksanakan. Itu salaah besar. Itu saya bilang, jangan ada yang mengambil keuntungan. Ketua DPRD kan sudah memintakan, masak kita sendiri menolak itu. Itukan sama saja meludahi muka sendiri. Kalau ada, oknum DPRD yang menghalang-halangi, berarti dia juga menghalang-halangi DPRD. Wajar kalau anggota DPRD itu diperiksa oleh Badan Kehormatan Dewan (BKD),” tegasnya.(ari/mag-7/mag/8)
 

Delete this element to display blogger navbar

 
© 2010 Koran Medan is proudly powered by Blogger