0 Melahirkan saat Banjir Besar, Ibu dan Bayinya Dievakuasi Pakai Perahu Karet

SumutPos 
Kuasa Tuhan, Anak Kami Lahir Selamat
Di tengah kondisi banjir besar yang melanda Kota Medan dan sekitarnya, Jumat (1/4) dini hari, Tety Herlina Siregar (31) melahirkan bayi ketiganya. Bagaimana kisahnya hingga ia dan bayinya dievakuasi dengan perahu karet?
Di tengah kondisi memprihatinkan pascabanjir besar yang melanda Kota Medan sekitarnya, pasangan suami (pasutri) istri M Sulaiman Daud (39) dan Tety Herlina Siregar termasuk orangtua yang bahagia. Luapan air tidak mampu menenggelamkan rasa syukur atas rahmat yang diberikan pencipta kepada mereka.
Pasutri warga Jalan KL Yos Sudarso Lingkungan IV Kambes Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, itu bahagia setelah anak ketiga mereka lahir. Bayi laki-laki itu lahir saat rumah mareka terendam air.
Sulaiman mengisahkan kejadian yang dianggapnya ajaib ini. Istrinya Tety yang sudah mengandung selama 9 bulan, merasakan tanda-tanda akan melahirkan Kamis malam. “Sejak tadi malam istri saya sudah kesakitan karena mau melahirkan,” ujarnya.
Jumat pagi sekitar pukul 05.30 WIB, Tety mengeluh tidak tahan lagi sehingga dibawa ke Klinik Rose, tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Sulaiman turut membawa dua anak mereka. Di klinik, Tety langsung ditangani bidan bernama Rose dan tak lama kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki sehat dengan proses normal. Pagi itu, kondisi jalanan becek setelah wilayah itu diguyur hujan dari malam hingga pukul 3 pagi.
Setelah melahirkan, Tety yang masih dalam kondisi lemah beristirahat di klinik tersebut. Namun, tiba-tiba sekitar pukul 07.00 WIB, air meluap dan mulai menggenangi klinik. Dari informasi yang mereka dapat dari warga sekitar, tanggul Sungai Deli jebol karena tidak bisa menahan debit air yang datang dari hulu sungai.
Masuknya air membuat panik bidan berusia sekitar 40-an tahun itu dan suaminya. Tak ingin anak dan istrinya terjebak di klinik, suaminya langsung meminta bantuan kepada warga sekitar untuk mengevakuasi istri dan ketiga anaknya.
Warga sekitar kemudian memberitahukan kepada kepala lingkungan untuk meminta pertolongan kepada Tim PMI yang kebetulan turun ke lokasi kejadian banjir tersebut. Kepala lingkungan langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak PMI.
Tak lama, tim PMI datang menggunakan perahu karet tiba untuk mengevakuasi Tety dan anaknya. Warga sekitar berbondong-bondong membantu mendorong perahu karet tersebut hingga ke tempat yang tidak tergenang air lagi.
Setelah itu, Tety dan bayi mungilnya dibawa dengan mobil PMI ke klinik Mariyati di Jalan Young Panah Hijau Lingkungan 8 Kelurahan, yang masih satu kelurahan dengan tempat tinggal mereka. Setibanya di Klinik Mariyati, istri dan anaknya langsung dibawa masuk ruangan untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
“Ini kuasa Tuhan. Pada waktu bencana banjir melanda, anak saya pun lahir,” ujarnya yang senang. “Istri saya saat ini masih terbaring di ruangan klinik (Klinik Mariyati) karena masih lemas akibat melahirkan tadi pagi,”jelasnya.
Sulaiman belum memberi nama anak ketiganya itu. “Kami belum memberikan nama kepada anak kami, yang penting anak kami lahir dengan selamat. Kemungkinan anak saya nanti akan saya berikan nama yang khusus karena melahirkannya pada saat bencana bajir,” tambahnya.
Sulaiman mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak PMI, Koramil dan juga warga sekitar yang sudah membantu melakukan evakuasi keluarganya. “Saya ucapkan terimakasih kepada mereka karena telah membantu saya, dan juga kepada bidan yang sudah membantu persalinan istri saya dengan baik,” katanya.
Dia berharap agar bencana banjir yang terjadi saat ini, cepat surut. “Agar kami bisa kembali menempati rumah kami dengan anak yang baru lahir,” tandasnya. (*)

0 Simalingkar Tenggelam

 TERENDAM: Warga Simalingkar berusaha melintasi genangan air yang tinggi 
untuk menyelamatkan diri dan keluarga.

 Sejumlah warga berlindung di rumah mereka akiibat banjir yang melanda 
kawasan Simalingkar, Jumat (1/4) dini hari.//ANDRI GINTING/SUMUT POS

SumutPos 
Listrik Dipadamkan, Warga Mengungsi
MEDAN-Hujan yang mengguyur Kota Medan sejak petang hingga dinihari tadi menyebabkan ratusan rumah di kawasan Perumnas Simalingkar tenggelam. Hingga dinihari tadi air sudah merendam rumah warga setinggi 2 meter. Belum ada informasi korban jiwa dalam peristiwa itu, namun warga sudah meninggalkan rumahnya dan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Hingga berita ini naik cetak air masih terus naik.
Laporan wartawan Sumut Pos, Ari Sisworo dan Andri Ginting dari lokasi banjir menyebutkan, daerah yang terendam Merica Raya, Cengkeh Raya, Jahe Raya, Pala Raya, Jahe 2, Jahe 6, Pala Raya 7 sampai 11. Banjir disebabkan karena air Sungai Simalingkar yang membelah Kota Medan dan Deli Serdang meluap, tepatnya di Jalan Merica Raya.
Personel TNI dan polisi tampak berjaga dan memantau di lokasi banjir.
Menurut Jhon Barus, air mulai masuk ke rumah sejak pukul 22.00 WIB. Akibatnya, warga mematikan lampu karena takut korsleting. Warga kemudian mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi. Warga Simalingkar lainnya, br Ginting menyebutkan rumahnya yang berada di Jalan Pala Raya tenggelam setinggi 2 meter. Akibatnya, mereka sekeluarga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi di daerah tersebut. “Hingga dinihari ini air masih seleher orang dewasa,” kata br Ginting.
Banjir memang sering terjadi jika hujan deras mengguyur. Tapi, kali ini air cukup tinggi.”Saya berharap kepada Pemkab Deli Serdang untuk membersihkan parit yang ada di sekitar rumah warga, karena air tersumbat dan sering meluap,” katanya.
Menurut N Batubara, banjir besar ini merupakan yang ketiga setelah bulan Juni 2003 yang lalu.
Sebelumnya, Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan memperkirakan, curah hujan pada awal April sangat tinggi. BMKG  mengimbau kepada warga Sumatera Utara, untuk mewaspadainya, karena kemungkinan besar bakal terjadi banjir.
Kepala Bidang Pelayanan Data dan Informasi BBMKG, Hendra Suwarta menjelaskan pada awal April ini curah hujan di atas normal. ”Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, curah hujan diperkirakan merata dan terjadi hampir di seluruh daerah Sumatera Utara,” ungkapnya.
Dikatakannya, curah hujan itu, menyebabkan adanya potensi luapan sungai atau banjir kiriman yang terjadi di sejumlah daerah. Untuk di wilayah pantai barat, potensi banjir itu ada di Batu Mundam dan Singkuang, Kabupaten Mandailing Natal, Aek Sibundong dan Batang Garigis di Kabupaten Tapanuli Tengah, Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan dan beberapa lokasi di Kabupaten Tapanuli Utara.
Sedangkan di wilayah pantai timur, sebut Hendra, banjir yang muncul karena adanya air kiriman. Daerah banjir berpotensi terjadi di Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, dan Asahan. BBMKG juga memperkirakan, curah hujan itu akan disertai angin kencang, karena adanya gangguan cuaca di arah Selatan.
Dengan faktor gangguan cuaca di arah Selatan dan sedang menerima tiupan angin barat, potensi curah hujan diperkirakan akan terjadi pada sore hingga malam hari. Ditambahkan, pengaruh angin kencang itu juga mempengaruhi kondisi ketinggian air laut di sekitar Sumut.
Disebutkan Hendra, ombak laut akan tinggi diperkirakan ketinggiannya mencapai 1,2 meter di perairan Lhokseumawe dan Selat Malaka, sekitar 2,5 meter di Laut Aceh dan Nias, dan sekitar tiga meter di Samudera Hindia. (ari/dri)

0 Banjir Besar Landa Medan



Medan, (Analisa).

 Kawasan rumah dinas Gubsu dan pemukiman penduduk terendam banjir saat diabadikan dari udara bersama Walikota Medan Drs Rahudman Harahap menumpang helikopter, Jumat (1/4).

Hujan deras yang melanda Kota Medan dan sekitarnya, Kamis (31/3) malam hingga Jumat (1/4) dinihari menyebabkan setidaknya ribuan rumah terendam air dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi. Menurut pantauan Analisa, banjir kali ini lebih besar daripada biasanya karena empat sungai yang melintasi Kota Medan yaitu Sungai Denai, Sungai Deli, Sungai Babura, dan Sungai Belawan meluap secara bersamaan.

Laporan dari tiga tim yang dibentuk Walikota Medan di rumah dinas Jalan Sudirman Medan, menyebutkan banjir besar ini merendam sedikitnya ribuan rumah yang berada di sebelas kecamatan Kota Medan.  Kecamatan yang dilanda banjir,  Medan Tuntungan, Medan Selayang, Medan Polonia, Medan Baru, Medan Petisah, Medan Johor, Medan Barat, Medan Helvetia, Medan Maimun, Medan Labuhan dan Medan Belawan.

Sejumlah kawasan elite  yang selama ini jarang tersentuh banjir, tidak luput dari amukan air bah. Air yang menggenangi kawasan Jalan Sudirman membuat rumah dinas walikota,  rumah dinas gubernur Sumut dan rumah dinas Kapoldasu  turut terendam.

Sejumlah jalan utama di Kota Medan seperti Jalan Mongonsidi Medan, Jalan Adi Sucipto Polonia, Jamin Ginting, Pattimura, S Parman, Gajah Mada, Iskandar Muda dekat Pringgan, Jalan dr Mansyur, Wahid Hasyim, Sriwijaya, Ngalengko, Jalan Sunggal Medan, TB Simatupang, Air Bersih hingga Jalan Titi Papan, Jalan Nibung juga tergenang air.

Sementara  di kawasan area Bandara Polonia Medan terlihat beberapa ruas jalan tergenang luapan banjir  Sungai Babura hingga 30 cm terutama ujung Jalan Suwondo dan Mongonsidi,  sehingga para pegawai maskapai penerbangan serta pegawai Bea Cukai, AP II Bandara Polonia Medan terganggu masuk bekerja. Bahkan, luapan air juga terlihat di ujung landasan yang tembus ke badan jalan dekat Taman Dirgantara.

Pada saat sama, suasana  di Bandara terlihat landasan pacu (runway) untuk pergerakan pesawat kali ini tidak terganggu di bandara itu, pesawat aman saat take off dan landing.Namun  imbas luapan sungai Deli dan Babura masuk ke area Bandara, menyebabkan jalan pintas (taxiway)  pesawat dan area parkir pesawat-pesawat berbadan kecil di kawasan Delta digenangi air, menyebabkan pesawat-pesawat itu diparkirkan agak ke pinggir bandara.

Kecamatan yang paling parah dilanda banjir adalah Medan Tuntungan. Di sini 11 lingkungan yang berada di Kelurahan Mangga terendam air. Sedikitnya 1.414 KK  atau 5.656 jiwa terpaksa mengungsi. 
Kemudian di Kecamatan Medan Barat, banjir terjadi di Kelurahan Kesawan yang menimpa 330 KK. Selanjutnya, Kecamatan Medan Selayang, merendam Kelurahan Beringin (450 KK).

Kecamatan Medan Sunggal, luapan air melanda tiga kelurahan Kelurahan Sunggal, ada 162 KK dengan 455 jiwa. Kelurahan Kampung Lalang, 288 KK dengan 1115 jiwa.  Kelurahan Tanjung Rejo, korban 117 KK, 521 jiwa di lingkungan IX, Gang Famili, Jalan Setia budi 50 KK/180 jiwa. Di sini posko kesehatan belum ada. Stok pangan cukup sampai hari ini.

Rumah yang terendam 25 unit dan idak bisa dimasuki lagi. Selain itu, di Jalan Sei Asahan, Lingkungan VIII ada 35 KK/160 jiwa yang menjadi korban banjir. Di sini posko kesehatan juga belum ada. Rumah terendam 26 unit.  Setelah itu Kecamatan Medan Polonia, luapan air menggenangi rumah warga di tiga kelurahan yaitu, Polonia,  Sari Rejo dan  Kampung Anggrung.

Luapan air selanjutnya melanda Kecamatan Medan Baru yang terjadi di lima kelurahan yakni Petisah Hulu,  Merdeka,  Darat,  Padang Bulan dan Titi Rante dengan jumlah 900 jiwa. Di Kecamatan Medan Johor, banjir terjadi di  Kwala Bekala,  Pangkalan Mansyur dan  Gedung Johor dengan 20 KK. Untuk Kecamatan Medan Helvetia, banjir melanda Kelurahan Tanjung Gusta dan Kelurahan Cinta Damai yang menimpa 1.116 KK. Sedangkan yang terakhir di Kecamatan Medan Maimun, banjir melanda Kelurahan Sei Mati dengan jumlah 2.469 jiwa.

Sementara ratusan rumah warga di Lingkungan II, III, IV, VI dan VII Kelurahan Martubung, terendam air akibat jebolnya tanggul  Sungai Deli sepanjang 10 meter di belakang pabrik pengolah sawit Jalan KL Yos Sudarso Km 14,5 Medan Labuhan, Jumat (1/4) pagi.

Air sungai mulai memasuki kediaman warga sekira pukul 06.00 WIB, dari rembesan bocornya tanggul di belakang pabrik AJP. Lantaran derasnya arus, tingginya volume air  mencapai pinggiran sungai dan ditambah lagi kondisi benteng yang rapuh, sehingga mengakibatkan tanggul terkikis dan jebol.

Selain menggenangi pemukiman setinggi pinggang orang dewasa, jalan raya kawasan Medan Belawan terpaksa diblokir bagi pengendara mengingat tinggi air mencapai lutut. Sebagai alat transportasi warga, sejumlah truk Polri dan TNI AL dikerahkan. Begitu juga untuk bantuan medis disiapkan ambulans keliling.  Untuk sementara hari itu, arus lalu lintas dialihkan ke Jalan Ileng Kelurahan Rengas Pulau, melalui jembatan Sungai Deli kawasan Aloha.

Dari pantauan Analisa, banjir juga melanda pemukiman warga di Simpang Kantor Kelurahan Pekan Labuhan, Perumahan TNI AL Dewa Ruci yang beberapa waktu lalu turut mengalami banjir kiriman.
Akibat genangan air di jalan raya dan sejumlah instansi pemerintahan tampaksepi, bahkan ada juga yang meliburkan pegawai hari itu. Selain itu di Medan Deli, pemukiman warga di Griya Marelan dan lingkungan IV Kelurahan Titipapan juga digenangi air setinggi lutut orang dewasa.

Terputus

Sementara Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM setibanya di Bandara Polonia, langsung meninjau banjir di Kelurahan Sei Bekala, Jalan Pintu Air IV.  Luapan air setinggi hampir dua meter, persisnya dekat jembatan menyebabkan terputusnya hubungan Kelurahan Sei Bekala dengan Simalingkar B di Kecamatan Medan Johor.

Menurut L Sihotang (33), salah seorang warga Jalan Pintu Air IV, Kelurahan Sei Bekala, banjir kali ini yang paling parah terjadi. Sebelumnya, kawasan tempat tinggalnya belum pernah terendam banjir seperti itu. Tinggi air di pinggiran sungai hampir sekitar empat meter sehingga merendam rumah warga. “Air mulai naik sekitar pukul 02.00 WIB. Begitu air naik, warga langsung mencari tempat yang lebih tinggi  untuk menyelamatkan diri. Sejak saya tinggal di tempat ini, belum pernah banjir separah ini,” kata L Sihotang.

Setelah melihat kondisi lapangan, walikota langsung memerintahkan pimpinan SKPD yang terkait segera memberikan bantuan kepada warga yang menjadi korban banjir, termasuk camat Medan Johor dan lurah setempat agar tanggap guna meringankan beban warga.

Dijelaskannya, luapan air ini terjadi tidak terlepas akibat belum berfungsi dengan baiknya kanal di kawasan Titi Kuning. Padahal kanal itu berfungsi untuk  mengendalikan luapan air apabila  sungai meluap. Akibatnya, air yang datang dari gunung akibat tingginya curah hujan menyebabkan sungai tidak mampu lagi menampung debit air  sehingga meluap.

Bentuk 3 Tim

Setelah itu walikota didampingi sejumlah pimpinan SKPD di antaranya Kadis Bina Marga Ir Gunawan, Kadis Sosial dan Tenaga Kerja Drs T Irwansyah, Kabag Umum Muslim dan Kabag Humas Khairul Buhari bergerak menuju kantor walikota. Orang nomor satu di Pemko Medan itu selanjutnya menggelar rapat  tertutup untuk membahas banjir tersebut.

Usai rapat, walikota menjelaskan kepada wartawan telah membentuk tiga tim yang diturunkan untuk memantau seluruh lokasi banjir.  Usai rapat, ketiga tim langsung bergerak menuju lokasi banjir. Rombongan Walikota bergerak menuju Kecamatan Medan Polonia. Di tempat ini, tepatnya Kelurahan Karang Sari, titi gantung yang menjadi sarana transportasi vital warga rusak parah akibat diterpa derasnya arus banjir.

Menurut Udin (35), warga Kelurahan Sari Rejo. Banjir kali ini dikatakannya paling parah dibandingkan banjir sebelumnya, termasuk banjir yang terjadi pada Januari 2011 lalu. Kondisi ini menyebabkan ratusan rumah warga terendam, bagi warga yang bermukim di pinggiran sungai, tinggi air sampai melewati atap rumah.

“Banjir kali ini cukup parah. Bayangkan saja tinggi air melebihi titi gantung, sehingga arus air menyebabkan konstruksi jembatan rusak parah sehingga tidak bisa dilewati lagi. Selama ini kalau pun air sungai meluap tidak pernah sampai  melewati titi gantung,” papar Udin.

Melihat kondisi konstruksi titi yang dibangun sekitar tahun 1970 itu cukup parah, walikota berjanji akan segera memperbaikinya. Hal itu dilakukan karena titi gantung itu merupakan akses keluar masuk yang sangat vital karena menghubungkan warga setempat (Kelurahan Sari Rejo) dengan Kelurahan  Beringin (Jalan Jamin Ginting).     Walikota juga meninjau pagar di landasan Bandara Polonia. Di sini, walikota langsung melihat jalur air yang keluar hingga menggenani akses jalan di samping Bandara Polonia. Walikota juga meninjau buangan air ke Sungai Deli.

Selanjutnya, untuk melihat kondisi banjir yang menimpa Kota Medan secara jelas, walikota didampingi sejumlah wartawan media cetak dan elektronik melakukan pantauan langsung dari udara dengan menggunakan satu unit helikopter dengan take off dari Lapangan Lanud Medan. Malam hari walikota bersama rombongan juga meninjau korban banjir di posko-posko di antara di Jalan S Parman dan kawasan Medan Utara.

Posko Bantuan dan Kesehatan

Sementara dari hasil rapat evaluasi di rumah dinas, dilaporkan Pemko Medan mendirikan posko dan dapur umum. Tercatat di Kecamatan Medan Tuntungan (9 titik posko kesehatan dan 9 titik dapur umum), Kecamatan Medan Barat (9 titik dapur umum), Kecamatan Medan Selayang (4 titik posko dan 4 titik dapur umum) dan Medan Sunggal (2 titik posko dan 3 titik dapur umum).

Di Kecamatan Medan Polonia (3 titik posko dan 3 titik dapur umum), Medan Baru (8 titik posko dan 8 titik dapur umum), Kecamatan Medan Johor (12 titik posko dan 12 titik dapur umum), Kecamatan Medan Helvetia (2 titik dapur dan 2 titik dapur umum) dan Kecamatan Medan Maimun (19 titik posko dan 19 titik dapur umum).

Kadis Kesehatan Kota Medan, dr Edwin Effendi MSc mengatakan ada belasan puskesmas yang disiagakan bersama dokter dan perawatnya. Mereka juga ditugaskan untuk membuka posko-posko kesehatan di titik-titik lokasi banjir. “Puskesmas-puskesmas yang merupakan daerah terkena banjir kami perintahkan untuk membantu warga dengan mendirikan posko,” katanya.

Sejumlah korban banjir khususnya warga yang tinggal di bantaran Sungai Babura hingga pukul 21.00 WIB masih tinggal di tenda-tenda pengungsian seperti di jalan Kejaksaan berdekatan dengan masjid Ubidyah. Warga di Gang Pasir, Jalan S Parman dan gang Sawo juga masih mengungsi. (maf/msm/maa/rmd/rrs/nai)

0 Kapolda Wisjnu Terima Ulos Wisgara

 
 TRIBUN MEDAN/FERIANSYAH NASUTION
 Kapolda Sumut Irjen Wisjnu Amat Sastro beserta isterinya, Mutiara Sitepu
mendapat penyematan pakaian adat Karo, Selasa, (23/3).
 
   
Laporan Wartawan Tribun Medan/Feriansyah Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kapolda Sumut Irjen Wisjnu Amat Sastro beserta isterinya, Mutiara Sitepu mendapat penyematan pakaian adat Karo saat memasuki halaman Mapolda Sumut, Selasa (22/3) pukul 09.00 WIB.

Saur Sitepu dan Maulina Br Ginting, mewakili subetnis Karo Sumut, khususnya marga Karo Karo Sitepu, didaulat menyematkan pakaian adat yang disertai harapan dan doa agar kapolda baru ini sukses dalam mengemban jabatannya.

"Kiranya Tuhan memberkati agar Pak Wisjnu sehat selalu. Agar selamat dan dilindungi oleh yang mahakuasa," ujar Saur saat menyematkan pakaian adat Karo.
Dia mengatakan seperangkat pakaian adat tersebut untuk menahan segala cobaan yang ditujukan pada diri Kapolda Sumut baru.

"Pisau yang kami serahkan juga untuk  melengkapi, menjaga diri kekuatan tubuh Pak Wisjnu," kata Saur seusai acara.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Hery Subiansauri melalui Kasubbid Dokumentasi dan Liputan (Dokliput) Humas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan mengatakan penyematan pakaian adat Karo pada Wisjnu, dilakukan lantaran isteri kapolda baru tersebut bermarga (boru) Sitepu.
"Itu memang sudah tradisi kita di Polda Sumut, setiap penyambutan Kapolda Baru selalu dengan acara adat satu suku yang ada di Sumut. Kebetulan hari ini adat Karo. Tapi ada juga tadi adat Melayu berupa tarian Serampang 12," katanya.
Nainggolan mengatakan, Wisjnu, disematkan ulos Wisgara dari tokoh masyarakat Kabanjahe, Tanah Karo.
 
"Kalau dulu Pak Oegro adat Toba, beliau diberikan Tunggal Panaluan," ujarnya.
Sebelumnya menurut informasi yang didapat, Wisjnu sudah tiba di Medan pada Minggu (20/3) sekitar pukul 15.00 WIB. Lebih cepat satu hari dari rencana yang dijadwalkan panitia penyambutan, yang harusnya tiba di Medan Senin (21/3).
 
Usai berjabat tangan dengan Kapolda Sumut yang lama (Irjen Oegroseno), Wisjnu dan Oegro langsung naik ke lantai empat Aula Tribrata Mapolda Sumut untuk mengikuti acara laporan kesatuan yang langsung disampaikan Kapolda Sumut yang lama, serta dilanjutkan acara penandatanganan memori serahterima. Namun, kegiatan ini bersifat tertutup dan hanya diikuti internal jajaran pejabat utama Polda Sumut.

Sedangkan di Aula Kamtibmas Mapolda Sumut, pada pukul 10.00 WIB berlangsung acara Rapat Paripurna Pengurus Daerah Bhayangkari Sumut dan temu ramah Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Sumut. Kegiatan ini diikuti oleh isteri isteri jajaran pejabat utama Polda Sumut serta isteri para Kapolres se-Sumut.

Kemudian pukul 14.00 WIB, dilaksanakan kegiatan serah terima jabatan Ibu Asuh Polwan dari Ning Oegroseno kepada Mutiara Sitepu Wisjnu Amat Sastro.

Usai acara formal sertijab Ibu Asuh Polwan, Wisjnu dan isterinya sempat menyanyikan satu lagu berjudul Anak Na Burju.
 
Sekitar pukul 16.30 WIB, setelah Wisjnu dan isterinya bernyanyi lagu batak, acarapun selesai, dilanjutkan salam salaman sejajaran Polisi Mapolda Sumut, sambil foto bersama. Usai foto, tampak Wisjnu dan Oegro berjalan keluar, Wisjnu mengantarkan Oegro naik ke mobil pribadinya, karena mobil dinas Kapolda Sumut sudah digunakan oleh Wisjnu pasca penandatanganan memori serahterima.

Mereka saling berpelukan dan saling bersentuh pipih. Oegro pun menaiki mobilnya. Usai kepergian Oegro, Wisjnu tampak masih berbincang dengan beberapa pejabat utama jajaran Mapolda Sumut. Tampak wajahnya serius ketika berbicara, Sambil memukul mukul kaki kanannya menggunakan  tongkatnya, tapi sesekali tawa juga muncul dari pria berkulit putih ini. Tak lama iapun menaiki mobil dinasnya untuk pertama kali, sambil memberikan hormat dan melambaikan tangan. 


Editor : budi

0 Penerapan e-KTP di Medan Lambat

Medan, (Analisa)

Penerapan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) di Kota Medan terkesan lambat. Padahal Kota Medan sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Utara seharusnya mampu menerapkan e-KTP terlebih dahulu dibanding kabupaten/kota lainnya di Sumut.

Parahnya, meski Medan termasuk kota terbesar ketiga dan merupakan kota yang menuju metropolitan tetapi tidak “dilirik” sebagai kota percontohan penggunaan e-KTP di daerah ini. “Awalnya Medan tidak masuk dalam 197 kabupaten/kota se Indonesia yang termasuk percontohan penerapan e-KTP.

Namun akhirnya Kementerian Dalam Negeri setujui kalau Medan termasuk salah satu kota yang harus menggunakan e-KTP, “ujar Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan sipil Kota Medan, Darussalam Pohan pada saat Kunjungan Kerja Komisi A DPRD Kota Medan, Jumat (25/3).  Dikatakannya, untuk menerapkan e-KTP tersebut, saat ini Dinas Kependudukan Kota Medan telah melakukan sosialisasi dan pemutakhiran data Nomor Induk Kependudukan (NIK) melalui Kepala Lingkungan.

Launchingnya Juni

“Untuk launchingnya e-KTP, kemungkinan akan dilaksanakan pada Juni tahun ini, ujarnya. Ketua Komisi A DPRD Kota Medan Ilhamsyah, mengakau hawatir jika penerapan e-KTP ini tidak akan menyelesaikan permasalahan yang selama ini terjadi di Kota Medan, yakni tumpang tindih jumlah penduduk.

“Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2010 jumlah penduduk Kota Medan mencapai 2,7 juta jiwa. Data ini akan meningkat pada saat jelang pemilihan umum, jadi bagaimana peran Disdukcapil untuk mengatasi permasalahan itu,“ tanyanya. Kepala Dinas Disdukcapil pada kesempatan itu tidak mampu berkata banyak, dirinya hanya mengatakan kalau mengenai jumlah penduduk pihaknya berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik.

Kunjungan Kerja yang dipimpin Ilhamsyah, Wakil Ketua, Surianda Lubis, Sekretaris, Burhanuddin Sitepu, anggota, Aripay Tambunan, Landen Marbun, Parlindungan Sipahutar, serta Janlie juga menyoroti rumitnya pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). “Saya kecewa meskipun katanya pembuatan KTP dan KK itu gratis namun di lapangan masih dijumpai kesulitan-kesulitan dalam pengurusannya, parahnya lagi masih banyak terjadi pungli,“ ujar Ilhamsyah. (sug)Medan, (Analisa)

Penerapan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) di Kota Medan terkesan lambat. Padahal Kota Medan sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Utara seharusnya mampu menerapkan e-KTP terlebih dahulu dibanding kabupaten/kota lainnya di Sumut.

Parahnya, meski Medan termasuk kota terbesar ketiga dan merupakan kota yang menuju metropolitan tetapi tidak “dilirik” sebagai kota percontohan penggunaan e-KTP di daerah ini. “Awalnya Medan tidak masuk dalam 197 kabupaten/kota se Indonesia yang termasuk percontohan penerapan e-KTP.

Namun akhirnya Kementerian Dalam Negeri setujui kalau Medan termasuk salah satu kota yang harus menggunakan e-KTP, “ujar Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan sipil Kota Medan, Darussalam Pohan pada saat Kunjungan Kerja Komisi A DPRD Kota Medan, Jumat (25/3).  Dikatakannya, untuk menerapkan e-KTP tersebut, saat ini Dinas Kependudukan Kota Medan telah melakukan sosialisasi dan pemutakhiran data Nomor Induk Kependudukan (NIK) melalui Kepala Lingkungan.

Launchingnya Juni

“Untuk launchingnya e-KTP, kemungkinan akan dilaksanakan pada Juni tahun ini, ujarnya. Ketua Komisi A DPRD Kota Medan Ilhamsyah, mengakau hawatir jika penerapan e-KTP ini tidak akan menyelesaikan permasalahan yang selama ini terjadi di Kota Medan, yakni tumpang tindih jumlah penduduk.

“Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2010 jumlah penduduk Kota Medan mencapai 2,7 juta jiwa. Data ini akan meningkat pada saat jelang pemilihan umum, jadi bagaimana peran Disdukcapil untuk mengatasi permasalahan itu,“ tanyanya. Kepala Dinas Disdukcapil pada kesempatan itu tidak mampu berkata banyak, dirinya hanya mengatakan kalau mengenai jumlah penduduk pihaknya berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik.

Kunjungan Kerja yang dipimpin Ilhamsyah, Wakil Ketua, Surianda Lubis, Sekretaris, Burhanuddin Sitepu, anggota, Aripay Tambunan, Landen Marbun, Parlindungan Sipahutar, serta Janlie juga menyoroti rumitnya pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). “Saya kecewa meskipun katanya pembuatan KTP dan KK itu gratis namun di lapangan masih dijumpai kesulitan-kesulitan dalam pengurusannya, parahnya lagi masih banyak terjadi pungli,“ ujar Ilhamsyah. (sug)

0 Kadisdiksu: Tidak Ada Alasan Menunda Pencairan Dana BOS

Medan, (Analisa)

Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Drs. Syaiful Syafri menegaskan, tidak ada alasan kepada daerah untuk menunda pencairan dana BOS, karena berhubungan langsung dengan kelancaran proses pendidikan.

Tidak ada alasan untuk tidak tersalurkan, apalagi sistem penyalurannya sudah jelas, ada petunjuk teknisnya, ada surat dari Mendiknas dan ada surat edaran bersama Mendagri dan Mendiknas yang ditujukan kepada kepala daerah kabupaten/kota masing-masing.

Demikian disampaikan Kadisdiksu Drs. H. Syaiful Syafri kepada wartawan di ruang kerjanya Jalan Teuku Cik Ditiro Nomor 1-D Medan, Jumat (25/3).  Namun sampai saat ini, lanjutnya, masih ada pemerintah daerah yang masih beralasan, karena beberapa sekolah belum menyerahkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) dan ada juga yang beralasan menunggu palu diketok, sehingga penyaluran BOS tersebut menjadi kendala.

Penting dicamkan, tegas Syaiful, keterlambatan penyaluran dana BOS di kabupaten/kota dapat mencederai atau menjatuhkan citra Pemerintah Provinsi Sumut ke pusat. “Oleh karena itu, saya mengimbau kepada kabupaten/kota agar benar-benar komit untuk segera menyalurkan dana tersebut secepatnya,” ujar Kadisdiksu.

Sementara penyaluran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di sebagian besar kabupaten/kota di Sumut belum juga disalurkan. Bahkan sampai saat ini baru 10 kabupaten/kota yang sudah menyalurkan bantuan tersebut ke sekolah-sekolah.

“Informasi yang saya terima sampai sat ini, baru 10 kepala daerah kabupaten/kota (bupati dan walikota-red) yang sudah menyalurkan dana BOS ke sekolah-sekolah. Sedangkan 23 kab/kota lainnya sampai saat ini saya belum mendapat informasi,” ungkapnya.

Salurkan BOS

Kesepuluh daerah yang sudah menyalurkan dana BOS tersebut yaitu Mandailing Natal, Tebingtinggi, Labuhanbatu Utara, Serdang Bedagai, Toba Samosir, Binjai, Medan, Tanjungbalai, Tapanuli Selatan dan Deliserdang. “Pemerintah Provinsi Sumut sangat mengucapkan terimakasih kepada 10 kepala daerah tersebut yang sudah menyalurkan dana BOS. Bagi 23 kab/kota lainnya diharapkan dapat segera menyalurkannya,” ucap Syaiful.

Mengenai sanksi bagi kabupaten/kota yang belum juga menyalurkan dana BOS tersebut, Syaiful Syafri menegaskan, saksi yang akan diberikan sudah jelas, sesuai surat Mendiknas No.293/MPN/KU/2011 dinyatakan, keterlambatan penyaluran dana BOS triwulan pertama sangat mengganggu kegiatan belajar-mengajar di SD-SMP. Apabila dana tersebut tidak segera disalurkan pada triwulan pertama, Mendiknas akan melakukan evaluasi terhadap anggaran-anggaran di daerah kabupaten/kota yang tidak komit terhadap pendidikan.

Sedangkan sanksi secara internal Pemprovsu, Kadisdiksu akan menyampaikannya kepada Gubsu dan meminta petunjuk, langkah strategis apa yang diambil apabila ada daerah yang tidak komit terhadap pendidikan dan penyaluran dana BOS tersebut.

Menyinggung penyaluran dana BOS untuk triwulan kedua (April-Mei-Juni), Syaiful Syari menyebutkan, sesuai dengan penjelasan dari Drijen Keuangan, penyalurannya akan dilaksanakan pada 6 April 2011 sudah ditransfer dari rekening Kas Negara ke rekening Kas Daerah. “Sedangkan penyalurannya ke sekolah-sekolah, selambat-lambatnya setelah 14 hari dana masuk ke Kas Daerah, diharapkan bisa segera disalurkan,” tegas Syaiful. (rmd)

0 Cheng Beng Hari Pertama Lancar, Peziarah Terharu Beri Bantuan

Medan, (Analisa)

Memasuki hari pertama Cheng Beng (ziarah kubur, red) pejiarah mulai mendatangi pekuburan. Meski belum terlalu ramai, peziarah hari pertama Cheng Beng yang bagi masyarakat Tionghoa merupakan ritual setahun sekali di perkuburan Tionghoa Kedai Durian berjalan lancar, Jumat (25/3).

Di beberapa titik juga terlihat pihak keamanan baik dari petugas kepolisian sektor Delitua dan Patumbak serta Koramil 08/MT serta Muspika senantiasa membantu kelancaran pelaksanaan ritual. Pantauan wartawan di lapangan, peziarah mengendarai mobil dengan tertib memasuki komplek perkuburan. Tampak juga pihak yayasan Budi Luhur selaku pengelola perkuburan memberikan pelayanan baik ketika peziarah tiba dan memasuki lokasi perkuburan.

Biaya operasional sebesar Rp 50 ribu per kendaraan roda empat atau lebih yang merupakan bantuan partisipasi para peziarah untuk biaya operasional meliputi pemeliharaan, kebersihan, perbaikan sarana jalan dengan ikhlas diberikan peziarah kepada petugas pengelola perkuburan ketika masuk ke komplek perkuburan.

“Para peziarah terharu ketika kita jelaskan untuk apa uang partisipasi tersebut. Meski ada yang tidak tahu, kita berikan penjelasan bahwa selama ini kita tidak pernah meminta kutipan untuk menjaga kuburan nenek, orangtua ataupun leluhur peziarah, namun kita tetap menjaga serta mengawasi agar kuburannya tetap baik,” sebut Ketua Yayasan Budi Luhur Kedai Durian, Harun.

Harun atau yang lebih dikenal Alun menjelaskan, biaya operasional tersebut baru pertama kali diberlakukan, mengingat yayasan sudah puluhan tahun tidak membebankan para peziarah dengan biaya operasional tersebut. Para peziarah tentu akan menyadari biaya yang harus dikeluarkan yayasan selama puluhan tahun. “Yayasan tanpa pamrih melakukan ini. Maka itu kita berharap atas pengertian dan bantuan para peziarah,” kata Harun.

Tokoh masyarakat Medan Johor ini menambahkan, untuk menggugah hati peziarah pihak yayasan juga memasang spanduk tentang makna Yayasan Budi Luhur yang telah dijabarkan yakni "Budi baik atau berbuat baik, Untuk orang banyak, Dimaknai amal dari Iman, Lanjut usia sama dengan, Umur panjang keduanya, Hidup dalam perjuangan, Untung atau Rugi laba tidak masuk kriteria".

Karena itu, lanjut Harun, diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak agar Cheng Beng berjalan sukses. Karena apa yang pihaknya lakukan juga hasil dari musyawarah semua pihak, sehingga yayasan akan terbantu untuk memenuhi biaya operasional yang selama ini telah dikeluarkan.  Menurut Harun, seperti tahun-tahun sebelumnya, pada saat Cheng Beng pejiarah bukan hanya datang dari Kota Medan, tapi juga daerah lain di Sumut, Pulau Jawa, Batam, Pakan Baru bahkan Malaysia dan Singapura. (msm)

Delete this element to display blogger navbar

 
© 2010 Koran Medan is proudly powered by Blogger