0 OK Azhari Cium Upaya Merendahkan Gubsu, Mengerdilkan Wagubsu

Medan, (Analisa)
Ketua Umum PB Angkatan Muda Melayu Indonesia (AMMI) H OK Azhari SE memperingatkan semua pihak, khususnya kalangan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) tentang kemungkinan penerapan teori pembusukan di kalangan pejabat teras, khususnya terhadap Gubernur Sumut H Syamsul Arifin SE dan Wakil Gubsu H Gatot Pujonugroho ST.
"Belakangan ini saya mencium adanya upaya seperti itu. Di satu sisi merendahkan wibawa Gubsu H Syamsul Arifin dan di sisi lain mengkerdilkan peran Wakil Gubsu Gatot Pujonugroho," kata OK Azhari SE kepada wartawan di Medan, Senin (7/3).
Menurut OK Azhari, upaya merendahkan Gubsu H Syamsul Arifin sangat kentara, dengan lontaran pernyataan-pernyataan yang nadanya seolah H Syamsul Arifin tidak layak lagi menjalankan tugas dan fungsinya sebagai Gubsu, hanya karena ia sedang dalam tahanan KPK. Padahal, antara status Syamsul Arifin sebagai tahanan dengan kedudukannya sebagai Gubernur adalah dua hal yang berbeda.
"Sebagai tahanan KPK tidak dapat dipungkiri ia harus berada di Rutan (Salemba-Red), tetapi sampai saat ini kedudukannya sebagai Gubernur Sumut belum pernah dicabut sehingga ia tetap berhak bahkan wajib menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai Gubernur Sumut. Jadi tidak boleh ada yang membatasi apalagi melarangnya, sampai ada ketentuan pasti dari pemerintahan atasan," tandas OK Azhari.
Sementara itu, suara-suara yang seolah "mengumbang" Wagubsu Gatot agar mengambil peran tugas-tugas Gubsu sebenarnya bukanlah hal yang menguntungkan, karena jika Gatot tergiur dan melakukannya maka ia akan menjadi seorang yang tidak taat azas serta tidak mengerti Tupoksi. "Banyak lontaran komentar seolah membela Gatot agar jangan takut menjalankan fungsi Gubsu yang sedang dalam tahanan, padahal itu sama saja dengan menjerumuskan Gatot kepada pelanggaran karena memang belum menjadi haknya, sehingga di mata orang yang memahami tata pemerintahan Gatot menjadi kerdil," urai OK Azhari.
Harus sadar
Jadi, menurutnya, Gatot harus sadar pada kedudukannya sebagai Wakil Gubsu. "Saya tidak minta ia menyadari bagaimana dahulu bisa menjadi Wakil Gubsu, tetapi cukup menyadari dan memahami tugas dan fungsinya sebagai Wakil Gubsu saja. Jangan mudah silau pada umbangan orang-orang yang ingin mendompleng pada kekuasaannya, tetapi harus istiqomah," ujar OK.
Misalnya, mengenai pengangkatan pejabat seperti Kepala SKPD dan Sekdaprovsu, menurut OK Azhari selama jabatan Gubsu belum dicabut dari H Syamsul Arifin maka adalah haknya untuk mengangkat pejabat atau mengusulkan nama-nama calon Sekdaprovsu ke Mendagri. "Tidak ada yang boleh menghalanginya," tegas OK lagi.
Kerdilkan Wagubsu
Sementara itu OK Azhari juga mengemukakan endusannya tentang adanya upaya lain dengan tujuan mengecilkan Wagubsu Gatot Pujonugroho ST, yaitu tetang munculnya dukungan terhadap Gatot menjadi Ka Kwarda Pramuka Sumatera Utara. Dukungan itu kabarnya muncul dari sejumlah Ka Kwarcab, karena adanya signal dari Ka Kwarda yang akan berakhir masa jabatannya dalam waktu dekat ini.
"Gatot sebagai Wagubsu itu levelnya adalah Waka Mabida Pramuka, jadi kalau diangkat menjadi Ka Kwarda berarti mengerdilkan kedudukannya, bukannya menaikkan derajatnya. Saya curiga hal-hal itu memang sengaja disetting, untuk mengecilkan dan mengerdilkan Gatot, bahkan mungkin untuk mempermalukannya," ungkap OK Azhari.
Ia mengatakan, masih banyak kalangan lain di bawah kedudukan Wagubsu yang pantas menjadi Ka Kwarda, apalagi kedudukan Ka Kwardasu itu cukup dijabat oleh figure setingkat Kepala Biro. "Kalau sampai Wagubsu diangkat menjadi Ka Kwardasu, lalu Waka Mabidasu terpaksa jatuh ke figure selevel Ka Biro atau Asisten, sungguh dari segi logika akan lucu jadinya," ujar OK Azhari sambil tertawa.
(rel/hers)

0 Kualitas Layanan KA Sumut Dinilai Mengecewakan

Medan, (Analisa)
Kualitas pelayanan kereta api di Sumatera Utara (Sumut) dinilai sangat mengecewakan. Selama puluhan tahun, pelayanannya dianggap tidak mengalami kemajuan dalam semua hal.
Demikian disampaikan ekonom Sumut, Jhon Tavu Ritonga, kepada wartawan di Medan, Minggu (6/3) setelah memesan tiket kereta api Medan-Rantau Prapat.
Diutarakannya, selama puluhan tahun tersebut, panjang rel kereta api tidak mengalami pertambahan, bahkan berkurang. Pelayanan juga tidak makin baik.
Mutu pelayanan tiket saja, ungkapnya, tidak mengalami kemajuan, dan bahkan memburuk.
"Hari ini kita memesan tiket untuk lusa bisa tidak tersedia. Padahal, pada lusa kita datang, tiket tersebut tetap bisa kita dapatkan," katanya.
Selain itu, jadwal keberangkatan kereta api juga seringkali molor. Semestinya, rute Medan-Rantau Prapat bisa ditempuh dalam waktu enam jam dengan kecepatan sedang. Kenyataannya, rute tersebut harus ditempuh selama delapan jam.
Kualitas tempat duduk di dalam kereta juga masih buruk," tambahnya.
Jhon Tafbu juga menyayangkan kondisi Stasiun Besar Kota Medan. "Kalau kita melintasi terowongan bawah, masih tercium bau pesing. Keadaan ini seperti kondisi tahun 1970-an saja," kritiknya.
Memiriskan
Ekonom yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (FE USU) ini sangat memprihatinkan kondisi tersebut. Jangka waktu puluhan tahun yang dilalui namun tidak menghasilkan banyak kemajuan dianggapnya sangat keterlaluan.
"Ini keterlaluan padahal pajak rakyat bertambah terus. Demikian juga yang ingin menggunakan pelayanan umum," tambahnya.
Dia menyebutkan, penerimaan pemerintah dari layanan umum juga terus mengalami peningkatan. Pada 2007, jumlahnya mencapai Rp 2,1 triliun dan pada 2010 sudah sebesar Rp 9,7 triliun.
Sayangnya, pemerintah daerah sendiri terkesan menerima saja keadaan ini meski pemerintah pusat sebenarnya terkesan tidak peduli pada daerah. Begitupun dengan rakyat yang sudah apatis, putus asa dan tak memiliki harapan.
"Ini sangat keterlaluan. Kita harapkan DPRD dan DPR RI menggebrak keadaan ini. Jangan menunggu sampai rakyat yang berteriak," harapnya.
"Semestinya, pemerintah yang bekerja dan Dewan yang mengawasi hal itu," sambungnya mengingatkan.
Dia mengharapkan kondisi ini segera diperbaiki. Pemerintah juga diharapkan tidak berwacana seperti layaknya pengamat.
"Kita jenuh melihat dan mendengar cara-cara apologi pejabat pusat menanggapi antrean di penyeberangan Merak-Bakauheni, Lampung. Semua pejabat eksekutif dan wakil rakyat mengatakan ‘akan begini’ dan ‘akan begitu’, tapi semuanya akan," kritiknya pedas.
Gambaran lain ketidakpedulian pemerintah itu juga terlihat dari tidak bertambahnya jalan bebas hambatan selama 30 tahun terakhir.
"Bahkan, peninggalan penjajah, seperti keretaapi pun makin pendek dan mutunya tidak membaik. Padahal logisnya, jika permintaan tinggi, yakni tiket terjual habis, maka tidak layak jika tidak ada pengembangan atau kemajuan atas perkeretaapian tersebut," demikian Jhon Tafbu Ritonga. (gas)

0 Jepang Ajak Medan Kerjasama Teknologi

Medan, (Analisa)
Konsul Jenderal Jepang Yuji Hamada mengajak Kota Medan untuk meningkatkan kerjasama di bidang teknologi. Kerjasama itu pun diharapkan melibatkan masyarakat secara luas.
Hal ini disampaikan Hamada usai bersilaturahmi dengan Ketua DPRD Medan Amiruddin di Gedung Dewan, Senin (7/3).
Menurutnya, saat ini Pemerintah Kota Medan sudah menjalin kerjasama kota kembar (sister city) dengan Kota Ichikawa di Jepang. Namun selama ini sifat kerjasama itu masih sebatas pertukaran pelajar dan budaya. "Kalau ada event masing-masing saling berkunjung dan memperkenalkan kebudayaannya. Ke depan kami berharap kerjasama itu bisa ditingkatkan dengan melibatkan DPRD Kota Medan," sebutnya.
Hamada mengatakan, Kota Medan memiliki sumber daya alam seperti pertanian, perkebunan maupun hal lainnya. Kata dia, masyarakat Medan dan Ichikawa juga harus dilibatkan dalam kerjasama antar kota ini.
"Kalau perlu dibuat semacam wadah kerjasama masyarakat Jepang dengan Medan. Misalnya seperti alih teknologi dalam sistem pertanian," ujar diplomat yang baru bertugas satu bulan di Medan ini.
Yuji Hamada yang sudah 14 tahun tinggal di Indonesia ini mengharapkan, akan terjalin kerjasama yang baik antara kedua belah pihak seperti dalam bentuk pertukaran kebudayaan, di samping dalam bidang teknologi tadi.
Belum lama ini, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang melakukan penjajakan kerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut. Kerja sama ini nantinya akan dilakukan untuk pengembangan pengendalian pencemaran limbah cair khususnya limbah dari Pabrik Kepala Sawit (PKS) dan industri lainnya yang berada di Sumut dengan teknologi.
Potensi
Sumut sangat potensial sekali dengan produksi minyak sawit dan saat ini Jepang tertarik bekerja sama mengendalikan pencemaran limbah cair yang diproduksi oleh PKS. Tujuannya untuk mengurangi gas metan yang dihasilkan dari limbah tersebut.
Ketua DPRD Medan Amiruddin menyambut baik peningkatan kerjasama Jepang dan Kota Medan ini apalagi dalam hal alih teknologi di segala bidang. Sebab harus diakui, Jepang memiliki teknologi yang lebih canggih. "Kerjasama sister city ini harus dikembangkan lagi. Sebab daerah ini punya potensi yang bisa dieksploitasi untuk kebaikan daerah dan masyarakatnya," katanya.
Misalnya di bidang pertanian, Medan atau Sumatera Utara secara umum memiliki lahan yang cukup memadai. Dengan kerjasama yang dibangun, Jepang memiliki hasrat untuk menyalurkan kemampuan teknologinya mendukung pertanian itu.
"Bisa saja dengan teknologinya itu, hasil pertanian semakin baik. Atau juga bisa memaksimalkan lahan yang ada untuk hasil yang maksimal," katanya.
(sug)

0 Dell Inspiron One 2310 All in One Harga Dibanderol Rp13,6 Juta

SumutPos

MEDAN-Softcom distributor dan dealer resmi merek komputer terkenal dunia Dell, menggelar pameran produknya pada Fomikomtech VI di Plaza Medan Fair Medan.
Softcom yang beralamat di Jalan Asia Raya Blok H No 10 Kompleks Asia Mega Mas Medan ini memamerkan satu produk terbaru Dell yang baru saja diluncurkan pada 24 Februari 2011 lalu, Dell Inspiron One 2310 All in One.
Keistimewaan produk ini adalah layar monitor WLED 23 inchi dan pengoperasian touch screen. “Untuk mengoperasikan microsoft office misalnya, bisa langsung menggunakan layar monitor, karena tersedia keyboard virtualnya. Tapi kita menyediakan keyboard dan mouse wireless standar juga dalam satu paket pembelian produk ini,” terang Marketing Softcom Lia, Minggu (27/2).
Selain menyuguhkan layar yang lebar serta pengoperasian layar sentuh, Dell Inspiron One 2310 All in One juga dilengkapi dengan prosesor Intel Core i5 dan 6 GB DDR3 yang memberikan kecepatan maksimal di setiap pengoperasian program-program pendukung dan tambahan.
Untuk mengoperasikan games di dalamnya, Dell Inspiron One 2310 All in One juga didukung dengan hardware grafik 1 GB ATI Radeon Graphic. “Jadi permainan baik yang off maupun online, tampak lebih nyata dan detail yang menjadikan permainan tersebut lebih seru dan mengasikkan,” kata Lia seraya menambahkan untuk OS-nya didukung dengan Windows 7 Home Premium 64 bit.
Sedangkan perangkat pendukung DVD Dell Inspiron One 2310 All in One menggunakan Blue-ray (BD) Combo Drive. Dan masih banyak lagi keunggulan yang disuguhkan Dell Inspiron One 2310 All in One.
Untuk awal pemasaran di Medan, Dell Inspiron One 2310 All in One dibanderol Rp13,6 juta. “Ini merupakan harga khusus di pameran yang berlangsung sejak 24 Februari hingga 2 Maret 2011 mendatang. Setelah pameran tentunya harganya akan berubah,” jelas Lia.
Selain Dell Inspiron One 2310 All in One, Softcom juga memamerkan produk terbaru Dell Seri XPS. Dell New XPS Series ini mendandani performa operasi prosesornya dengan Intel Core i7. Ditambahan Turbo Boost to 2.93 GHz Quad Core. “Kinerja prosesor semakin kencang ditambah memori 4 GB DDR3 SDRAM,” papar Lia.
Dell New XPS Series seperti seri XPS 15 didukung juga grafik untuk game dengan 2 GB nVIDIA GeForce GT435 Graphic. Seri XPS ini dibanderol dari harga Rp9,9 juta hingga Rp12,3 juta.
Softcom juga memamerkan laptop khusus game, Alienware yang memiliki sistem game dengan performa tinggi. Tak pelak harga yang ditawarkan juga sangat berbeda dengan laptop user biasa. Harganya dibanderol dari harga Rp14,4 juta hingga 29,5 juta. (saz)

0 Main Mobil Radio Control 3 Bulan Baru Mahir

 REMOT KONTROL: Budi bersama mobil RC saat ditemui di Sun Hobbies,
Jum’at (4/3).//RAHMAT SAZALY/SUMUT POS

SumutPos
Ternyata, piawai memainkan mobil radio control (RC) dengan baik, bisa menjadikan kita seorang atlet. Sedikitnya, ada empat orang di Medan yang kini menjadi atlet olahraga rekreasi karena tangkas memainkan mobil RC tersebut. Bagaimana kiprah mereka?
Rahmat Sazaly, Medan
Mobil RC yang dimaksudkan di sini bukan yang menggunakan wayar berukuran kecil, seperti yang sering dimainkan anak-anak. Tapi masing-masing mobil RC ini memiliki ukuran, jenis dan spesifikasi. Tentunya dengan banderol harga yang bervariasi pula.
Olahraga memainkan mobil RC ini dikatakan elit karena harga mobilnya bisa mencapai Rp25 juta. Namun, mobil RC standar yang sudah layak untuk mengikuti perlombaan atau kejuaraan ada juga yang dibanderol dengan harga Rp4 juta. “Tapi itu masih sangat standar,” ujar Budi, seorang mekanik di komunitas mobil RC Sun Hobbies, Jum’at (4/3).
Budi yang telah bergelut di dunia mobil RC selama 12 tahun ini bercerita banyak tentang pengalamannya sebagai mekanik. Tentunya tak hanya pengalaman memerbaiki mobil-mobil RC tersebut, tapi pengetahuannya tentang seluk beluk olahraga elit ini.
Karena menurut pria yang berasal dari Kota Kembang Bandung ini Ia juga sempat menemani pembalap mobil RC ini hingga ke tingkat dunia. “Even-even internasional sudah sering saya ikuti bersama pembalap. Dan bersama pembalap yang kini berada di Sun Hobbies ini saya juga sudah pernah ke Maccau dalam kejuaraan internasional,” terangnya.
Budi juga memaparkan, untuk tingkat daerah Sumut, komunitas resminya bernama medan radio control community (MRCC), untuk tingkat nasional Asosiasi Radio Model Indonesia (ARMI) dan tingkat dunianya bernama International Federation of Model Auto Racing (IFMAR).
Mobil RC ini masing-masing dikelompokkan sesuai besar mobil. Untuk yang paling kecil 1/10, 1/8 dan 1/5. Jenisnya juga ada yang elektrik drip, touring engine, adventure, crawler, buggy dan truggy. Namun, yang saat ini ramai diperlombakan dalam kejuaraan adalah 1/10 elektrik drip, 1/10 touring engine, 1/10 adventure, 1/10 crawler dan 1/8 buggy. “Untuk yang 1/5 truggy di Indonesia tak ada kejuaraannya, tapi di luar negeri ada. Dan ukuran 1/10, 1/8 hingga 1/5 ini maksudnya, perbandingan ukuran mobil tersebut dengan mobil sebenarnya,” papar Budi.
Kemudian, lanjut Budi, dibagi lagi dalam dua kondisi sirkuit yakni onroad dan offroad. Khusus yang buggy selalu offroad alias sirkuitnya lebih ekstrim dari sirkuit onroad. “Karena di sirkuit offroad terbuat dari tanah dan terdapat gundukan-gundukan untuk jumping hingga genangan-genangan air. Sementara di sirkuit onroad hanya terbuat dari keramik atau aspal,” tuturnya.
Di Sumut sendiri komunitas mobil RC ini terbagi-bagi menurut jenis mobilnya. Yang elektrik drip di Jalan Sei Bingai Langkat yang terkenal dengan Kampung Drip. “Sangking terkenalnya karena terdapat sirkuit untuk mobil RC jenis elektrik drip, satu daerah di sana di sebut dengan Kampung Drip,” ungkap Budi.
Kemudian, sambungnya, untuk komunitas touring engine ada di Sun Hobbies Onroad Circuit Jalan Garuda Medan. “Sedangkan untuk komunitas buggy terdapat di daerah Polonia Medan, tepatnya di depan Taman Dirgantara,” ujar Budi.
Kalau soal ngumpul-ngumpulnya, para anggota komunitas berkumpul pada Sabtu hingga malam Minggu di Sun Hobbies Onroad Circuit. Sedangkan pada hari Minggu berkumpul di daerah Polonia Medan. “Masing-masing komunitas boleh bergabung bermain, kalau ada mobil RC touring engine gabung di Sun Hobbies Onroad Circuit kalau ada mobil RC buggy gabung lagi di daerah Polonia Medan,” jelas Budi seraya menambahkan, komunitas di Sumut yang terkenal yakni Mugen, X-Ray, Tomat Merah dan Sun Hobbies.
Untuk belajar bermain mobil RC bagi pemula biasanya menghabiskan waktu minimal 3 bulan. Tahapan kebisaan pembalap juga ada tingkatannya. Atau paham, bisa hingga mahir. Menurut Budi, biasanya yang mudah nangkap 3 bulan sudah bisa mahir. Jadi tergantung orangnya juga.
“Beda pula tingkatan di even kejuaraan, itu dibedakan menjadi beginner, non seeded, seeded hingga master. Tingkatan ini ditentukan seorang pembalap yang telah mengikuti berbagai even, baik tingkat daerah, nasional dan internasional,” katanya.
Budi juga memaparkan, yang sering menjadi kendala pada mobil RC ini adalah seringnya frekwensi dari remot kontrol yang bertabrakan. “Namun, seiring kemajuan teknologi, setiap remot kontrol telah memiliki sinyal yang kuat masing-masing dengan frekuensi giga hertz (GHz). Dan untuk remot kontrol yang dibeli terpisah bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp4,5 juta,” tuturnya.
Menurut Budi, produsen mobil RC yang terbaik adalah Kyosho dari Jepang yang memang telah memiliki pabrik sendiri sejak sekitar 1950-an. Diikuti dengan Mugen Seiki dari Jepang dan X-Ray dari Slovakia.
Sementara untuk sparepart mobil RC ini tak susah untuk di dapat di Indonesia. Karena di Indonesia dan tersebar di beberapa kota besar telah memiliki distributor. “Tapi untuk Medan sendiri belum ada distributor khusus, tapi baru dealer-dealer resmi saja,” kata Budi.
Saat ini pembalap mobil RC Indonesia baru mampu menempati peringkat 50 besar dunia. Dan Indoensia sendiri baru mampu menjadi produsen ban mobil RC bermerek Prochamp yang pabriknya di Cikarang Bekasi.
Budi berharap perhatian pemerintah semakin besar terhadap pembalap-pembalap mobil RC ini. Karena menurutnya, workshop hingga pelatihan-pelatihan untuk para pembalap tersebut sangat jarang. “Mereka mayoritas masih belajar secara otodidak atau diajarkan oleh para senioran mereka. Bagaimana kita mau bersaing di taraf dunia?” jelasnya.
Budi juga menambahkan, para pembalap ini mengasah kemampuan pada kejuaraan daerah yang setiap tahun digelar dan kejuaraan nasional yang digelar 2 tahun sekali. (*)

0 Antar Kader PDIP Medan Bentrok

 
 
Laporan Wartawan Tribun Medan/Irwansyah Putra Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ribuan Kader PDIP yang mendatangi kantor DPC PDIP Medan, Kamis (3/3) di Jl Sekip Medan terlibat bentrok. Bentrokkan yang terjadi antar kader PDIP menuntut agar kepengurusan DPC Kota Medan dibekukan, dan juga hendak melakukan penyegelan terhadap Kantor DPC PDI Medan dengan kader yang pro dengan DPC. Bnetrokkan terjadi karena adanya lemparan dari dalam gedung.

Awalnya kader PDIP yang berada didalam kantor DPC PDIP melemparkan aqua ke arah kader yang berada diluar atau yang kontra dengan DPC PDIP Medan. Kader PDIP yang berada diluar tidak diam saja, mereka membalas lemparan tersebut dengan menggunakan batu. 

Kader PDIP yang berada diluar kantor DPC PDIP Medan hampir kehabisan kesabaran karena pengurus DPC belum juga menemui mereka. Sementara itu, petugas kepolisian yang berjaga berada ditengah kedua belah pihak kader PDIP yang bentrok masih terus berjaga dan melakukan pengamanan.

Editor : budi
Sumber : Tribun Medan

0 Lelang Kantor UOB Buana Medan Ditunda, Pemohon dan Peserta Lelang Kecewa

Medan, (Analisa)
Puluhan pegawai PT Abdi Bakti Rakyat berunjukrasa di depan gedung Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (3/3). Mereka datang bersama peserta lelang, sembari membawa spanduk berisi permintaan
pelaksanaan lelang terhadap dua Kantor United Overseas Bank (UOB) atau UOB Buana berpusat di Singapura, yang terletak di Jalan Palang Merah dan Tomang Elok, Medan.
Namun, proses lelang tersebut kemarin ditunda, pasalnya pihak Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Medan menolak proses pelelangan, disebabkan dalam surat perintah lelang dari PN Medan tidak dipastikan ukuran/luas objek lelang.
Akibat ditundanya proses lelang itu, pemohon yakni PT Abdi Bakti Rakyat (ABR) merasa sangat kecewa, begitu pula peserta lelang. Padahal dari pengakuan peserta lelang yang rata-rata warga keturunan Tionghoa itu, sudah menyetorkan uang jaminan lelang mulai ratusan hingga miliaran rupiah.
"Pastinya kita sangat kecewa, karena diumumkan hari ini (Kamis-red) lelangnya, tapi tidak jadi hanya karena ukuran objek lelang tidak pasti, di surat disebut "sekitar" atau "lebih kurang" sekian," tegas salah seorang peserta lelang yang tak mau disebutkan identitasnya.
Padahal kata mereka, masalah ukuran itu yang diklaim pihak KPKNL tidak bisa dilakukan lelang sebelum mengetahui ukuran pastinya, tidaklah masalah bagi mereka. "Ibarat lelang mobil, terkadang tak ada bannya, begitu pula dalam lelang ini. Jadi sebenarnya tidak masalah bagi kami," sebutnya lagi.
Kalaupun, ujar pria berkacamata ini, proses lelang ditunda karena luasnya disebutkan "sekitar", seharusnya sejak awal pihak KPKNL mengumumkan penundaan proses lelang ini. Dan meminta kepada pihak yang berwenang untuk melakukan pengukuran ulang pada objek lelang.
"Jadi jangan begini caranya, kami sudah sejak pagi menunggu namun nyatanya ditunda, waktu kami jadinya terbuang," ujar pria berpakaian batik ini sembari mengatakan ia telah menyetorkan uang jaminan senilai Rp1,375 miliar ke Bank Sumut.
Sementara, pihak pemohon lelang (PT ABR) didampingi kuasa hukumnya Abdurrahman SH mengatakan, ditundanya proses lelang karena ukuran/luas lahan dalam surat perintah lelang oleh PN Medan disebutkan "lebih kurang", sehingga pihak KPKLN mengklaim tidak bisa melakukan lelang, dipertanyakan pada pihak PN Medan.
Namun, pihak PN Medan melalui Humas, Jhonny Sitohang SH di ruang kerjanya mengatakan, sementara pihaknya akan meneliti kembali surat perintah lelang itu dan meminta kepada pemohon dan peserta lelang agar bersabar.
Putusan MA
Sebagaimana dikatakan Abdurrahman, dalam perkara ini pihak UOB Buana mengabaikan putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) RI No.93 PK/Pdt/2002 tanggal 2003 yang telah berkekuatan hukum tetap.
Dalam putusan PK MA RI itu, menguatkan putusan PN Medan tertanggal 20 Agustus 1997, yang menghukum OUB untuk membayar uang paksa senilai US$ 10.000 perhari secara tunai kepada penggugat, PT ABR.
Bahkan sebelumnya pihak PN Medan telah melakukan sita eksekusi terhadap dua Kantor UOB Buana tersebut karena mengabaikan putusan PK MA RI. Karena terus diabaikan, penggugat atau pemohon lelang PT ABR memohon lelang eksekusi ke PN Medan.
Menindaklanjuti permohonan lelang kliennya, Ketua PN Medan Panusunan Harahap meminta tim penilai publik independen dari Kantor Jasa Abdullah Priantoro, untuk menaksir harga kedua gedung UOB Buana Medan sebagai objek lelang.
Bermula Sejak 1996
Awal terjadinya perkara ini, kata Abdurrahman sejak tahun 1996 lalu. Awalnya UOB pada tahun bernama Overseas Union Bank (OUB) juga bank asal Singapura mensomasi PT ABR dengan tudingan tidak membayar hutang.
Sementara pihak ABR merasa tidak memiliki hutang, namun hutang itu atas nama pribadi salah seorang pegawainya. Akibatnya ABR menggugat OUB dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Gugatan kliennya menang di PN Medan dengan menghukum pihak OUB agar menyatakan permintaan maaf dan dimuat di media cetak, jika tidak OUB harus membayar denda (dwangsom) pada ABR senilai US$10.000 perhari. Jika diperkirakan hingga saat ini, pihak OUB tidak membayar uang paksa sebesar Rp250 miliar.
Namun hal itu tidak dilakukan pihak OUB, hingga bank tersebut melakukan merger dengan UOB yang juga bank Singapura tahun 2001, sehingga kini menjadi UOB. "Walau demikian, dalam hukum merger menegaskan maka kewajiban OUB membayar denda pindah ke UOB, namun tetap diabaikan hingga kejadian ini (kemarin-red) muncul," sebut Abdurrahman.
Pantauan wartawan, buruh PT ABR yang bergerak di bidang kaca itu, saat demo dan konvoi kemarin selain membentangkan poster juga mengenakan jubah putih bertuliskan UOB sebagai bank Singapura yang dituding sebagai penipu kelas kakap. (dn)

Delete this element to display blogger navbar

 
© 2010 Koran Medan is proudly powered by Blogger