0 Situs Kota Cina akan diteliti

Waspada Online
MEDAN - Situs Kota Cina di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan akan diteliti secara komprehensif, menyusul penelitian pendahuluan yang telah dilakukan dua arkeolog asing Daniel Perret dan McKinnon pada akhir Februari 2011.

Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed) Erond Damanik di Medan, siang ini mengatakan, pada 22-25 Februari 2011 dua orang arkeolog berkebangsaan asing telah melakukan penelitian pendahuluan di Situs Kota Cina, Medan Marelan.

Perret adalah peneliti dari Ecole Francaise D`Extreme Orient (EFEO) Prancis dan McKinnon merupakan peneliti berkebangsaan Inggris. Penelitian dilakukan dengan melibatkan mahasiswa Unimed sebagai tenaga lapangan.

Tujuan penelitian tersebut adalah untuk melakukan survey permukaan terhadap jejak perdagangan internasioal yang pernah eksis di Kota Cina seperti fragmen keramik, tembikar, dan mata uang yang menjelaskan eksistensi dari situs tersebut pada abad ke-12 hingga abad 14 Masehi, katanya.

"Hasil penelitian pendahuluan atau pra penelitian tersebut nantinya akan dijadikan sebagai rujukan atau pedoman untuk melakukan penelitian komprehensif atau ekskavasi terhadap Kota Cina yang direncanakan berlangsung April 2011 mendatang," katanya.

Staf peneliti di Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed ini mengatakan, jika penelitian secara komprehensif tersebut jadi dilakukan, maka hal itu akan mendukung penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh McKinnon pada 1972 hingga 1978.

Menurut dia, sebagaimana yang dikemukakan McKinnon dalam disertasinya tentang perdagangan internasional di Pantai Timur Sumatera Utara, bahwa Kota Cina berasal dari abad 12 hingga 14 Masehi dan ramai dikunjungi berbagai bangsa seperti dari China, Arab, Vietnam, Thailand, Burma dan Aceh.

"Dengan demikian, pemerintah Kota Medan seharusnya memberikan apresiasi yang sama atau mendanai penelitian yang dilakukan oleh penelitian lokal seperti Balai Arkeologi Medan sehingga informasi penelitian tentang Kota Cina tetap menjadi milik bangsa Indonesia," katanya.

Sebelumnya, Kepala Pussis Unimed Dr Phill Ichwan Azhari mengatakan, tim arkeolog dari Perancis dan Inggris tersebut dalam penelitian awalnya di situs itu berhasil mendapatkan temuan baru berupa struktur bangunan kono seluas 2x3 meter yang diperkirakan dulunya merupakan sisa-sisa bangunan suci.

Kemudian juga ditemukan dua arca yang kondisinya tidak lagi utuh. Penelitian tersebut berlangsung 22-25 Februari 2011 untuk pemetaan dan identifikasi situs. Selanjutnya bulan April 2011 mendatang akan dilakukan eskavasi oleh tim arkeolog secara lebih intensif.
Editor: SASTROY BANGUN
(dat03/wol/antara)

0 Korban Penganiayaan Jadi Tersangka

SumutPos
Lagi, Pemutarbalikkan Kasus di Polisi Terungkap
MEDAN-Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga, memimpin sidang gelar kasus dugaan pemutarbalikkan kasus penganiayaan yang dialami Nurliah (32), warga Jalan Simpang Lolom, Gang Mesjid Dusun IV, Percut Seituan, Deli Serdang, Sabtu (12/3) pukul 15.00 WIB.
Dalam kasus yang terjadi 12 Juli 2010 lalu itu terungkap, awalnya Nurliah berstatus sebagai korban pelaporn
atas penganiayaan anaknya Muhammad Alfariji (9), yang dilakukan tetangganya, Jumain (25) di Polsekta Percut Seituan.
Tapi, Jumain tidak senang, lalu balik mengadu ke Polsek dalam kasus yang sama. Akhirnya, Nurliah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Kini berkasnya dinyatakan sudah P21 oleh pihak kejaksaan.
Nurliah mengatakan, dirinya tidak menyangka kejadian yang dialaminya berbalik dari kenyataan. “Sungguh malang nasibku ini hanya karena aku orang yang tidak punya uang dan kekayaan, hukum juga tidak berpihak kepada saya walau tindakanku benar,” ujar Nurliah menitikkan air mata sembari menggendong anaknya yang masih berusia 3 tahun.
Dikatakannya, aparat penegak hukum yang seharusnya melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat dan seharusnya berpihak pada kebenaran justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya.
“Hukum ini ternyata hanya berpihak kepada orang kaya yang punya uang banyak, aparatnya hanya berani menindak yang kecil-kecil seperti saya kalau yang besar-besar tidak berani,” kata Nurliah.
Menurutnya, awal kejadian itu terjadi saat anaknya Muhammad Alfariji (9) sedang bermain ketapel burung dengan teman-teman sebayanya tak jauh dari rumahnya. Namun secara tidak sengaja peluru ketapel salah seorang temannya nyasar ke rumah Jumain. Kemudian Jumain marah-marah kepada Muhammad Alfariji dan teman-temannya.
Alfariji dan teman-temanya pun langsung lari. Saat lari baju Muhammad Alfariji  tersangkut di pedal sepeda motor yang tidak jauh dari tempat mereka bermain sehingga korban jatuh dan tertangkap oleh Jumain.
Setelah tertangkap, pelaku langsung memukuli Alfariji hingga memar-memar dan mengalami pembengkakan di kuping korban, sehingga korban menangis dan mengadukan pemukulan yang dilakukan oleh Jumain kepada ibunya Nurliah yang saat itu sedang berada di rumah.
Melihat anaknya mengalami memar-memar dan menangis, ditemani ibunya kemudian mendatangi rumah Jumain. Namun, ibu dan anak ini malah dianiaya Jumain hingga mengalami luka memar. Karena postur tubuh Jumain lebih besar, sehingga keduanya tak kuasa melawan dan mengadukan kejadian itu ke Polsekta Percut Seituan dengan No LP/1545/VII/2010/TBS Percut Seituan tertanggal 12 Juli 2010 pukul 16.30 WIB.
Laporan tersebut kemudian diterima oleh Aiptu Jhony dan selanjutnya diperiksa. Saat itu Kapolsekta Percut Situan dijabat oleh AKP Josua.
“Tapi anehnya, masak aku yang melapor ke polisi kok jadi aku yang dituduh polisi melakukan penganiayaan. Padahal, bukti visum ku ada, dan anak saya pun ada bukti visumnya tetapi malah aku yang dipanggil polisi sebagai pelakunya dan akan dilimpahkan berkasnya ke JPU di Kejari Lubuk Pakam. Ini sangat aneh,” jelasnya sembari menunjukkan bukti surat panggilan polisi kepadanya.
Polsekta Percut Seituan memanggil Nurliah dengan No Surat Pgl/326A/III/2011/Reskrim dalam surat panggilan tersebut Nurliah di minta untuk datang ke Polsekta Percut pada tanggal 15 Maret mendatang, agar berkas dan kasusnya dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cabang Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam di Labuhan Deli dalam rangka perkara tindak penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 (1) KUHP dengan Nurliah sebagai pelakunya.
Ditambahkanya, setelah mengadukan kejadian itu ke polisi dirinya juga telah melaporkan penganiayaan yang dialami anaknya tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut.
“Aku juga telah melaporkan kejadian ini ke KPAID, namun belum juga ada tanggapan dari pihak KPAID,” tambah Nurliah.
Pengacara Nurliah, Hasbi Sitorus SH mengatakan, kasus yang menimpa kliennya itu memang aneh. Pasalnya, pelaku yang seharusnya diproses secara hukum justru terbebas dari jeratan hukum.
“Aneh sekali ini korbanya yang jadi tersangka. Darimana jalannya itu. Apa memang begini hukum di Indonesia ini?” kata Hasbi. “Bukan itu saja pelakunya malah berkeliaran dan berani pula dia bilang polisi sudah saya bayar, Kemana lagi kalian mau mengadu. Hebat kali dia bah,” sambung Hasbi Sitorus.
Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga SH mengatakan, akan menindak tegas setiap anggotanya jika terbukti melakukan kesalahan. “Pasti saya tindak dong, tetapi dengan catatan jika itu terbukti bersalah,” kata Tagam. (mag-8)

0 Penertiban Babi Diwarnai Letusan Senjata dan Hujan Batu

 HISTERIS: Dua ibu berteriak histeris melihat petugas mengamankan
7 ekor hewan kaki empat milik rekan mereka dalam eksekusi 
di Mandala, kemarin.//triadi wibowo/sumut pos
SumutPos

5 Warga dan 3 Aparat Luka
MEDAN- Seperti yang telah diprediksikan sebelumnya, penertiban ternak kaki empat di Jalan Tangguk Bongkar 9, Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai, Kamis (10/3) akhirnya berlangsung ricuh. Sekitar 540 personel gabungan satpol PP, Brimobdasu, SabharaPolresta Medan dan personel TNI AD dihadang warga. Barikade petugas dihadang dengan lemparan batu.
Dalam eksekusi ini, terjadi bentrok antara warga dan petugas hingga terjadi hujan batu dan tembakan senjata api ke udara. Lima warga terluka dalam bentrok dan dua anggota Satpol PP terluka di kepala akibat lemparan batu. Sementara itu, satu gigi Drs Suangkupon Siregar, Lurah Denai, copot dan bibirnya pecah. Suangkupon menduga, luka itu akibat pukulan warga saat terjadi bentrok.
Wakil Ketua DPRD Medan August Napitupulu beserta anggota DPRD Sumut Tagor Pandapotan Simangunsong kemudian tiba di lokasi dan melakukan dialog dengan Kadistanla Medan Ir Wahid, Kasatpol PP Kriswan, Camat Medan Denai Edhie Mulya dan perwakilan pihak keamanan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, eksekusi hewan ternak kaki empat itu dilanjutkan hari ini, Jumat (11/3).
Penertiban ini dihadiri Assisten Pemerintahan (Aspem) Pemko Medan Daudta Sinurat, Kepala Bagian Hukum Iwan Habibi, Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Pemko Medan Ir Wahid, dan Camat Medan Denai Edhie Mulya. Para petugas terdiri dari personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemko Medan dibantu personel Polresta Medan dan Brimobdasu serta personel TNI. triadi wibowo/sumut pos
HISTERIS: Dua ibu berteriak histeris melihat petugas mengamankan 7 ekor hewan kaki empat milik rekan mereka dalam eksekusi di Mandala, kemarin.
Sebelum eksekusi dilakukan, pihak-pihak yang terlibat berkoordinasi di Kantor Camat Medan Denai di Jalan Pancasila. Sebelum menuju ke lokasi penertiban, para petugas dibriefing oleh Camat Medan Denai Edhie Mulya. Setelah itu, dengan menggunakan kendaraan para petugas menuju ke area ternak babi di Kelurahan Tegas Sari Mandala II.
Warga juga sempat menghentikan mobil yang membawa personel Brimobdasu dan Satpol PP. Rute menuju Tangguk Bongkar 9 kemudian dialihkan melalui Jalan Selam VI.
Belum lagi masuk ke lokasi, para petugas sudah dihadang warga yang mempersenjatai diri dengan batu.
Keadaan pun semakin rusuh, yang pada akhirnya membuat para petugas dari Satpol PP dan personel Brimobdasu membuat barikade di Jalan Mandala By Pass dekat Simpang Jalan Tangguk Bongkar 9.
Setelah memasang barikade, para petugas tersebut secara perlahan memasuki lokasi eksekusi. Bentrok tak terelakkan. Sekitar pukul 09.20 WIB, saat 550 petugas gabungan merangsek masuk dari Jalan Mandala By Pass ke Jalan Tangguk Bongkar 9, langsung dihadiahi lemparan batu oleh warga. Beberapa tameng Satpol PP pecah karena hantaman batu dari para warga.
Hujan batu dan kayu pun terjadi, bahkan sempat ada warga yang berupaya untuk menerobos barikade Satpol PP Medan, namun akhirnya tertangkap dan diamankan. Dua orang orang yang tertangkap tersebut yakni, Aloysius dan Fredy.
Saat kondisi genting, terdengar suara letusan senapan api dari pistol petugas tanda peringatan. Namun, letusan yang terdengar beberapa kali tersebut sama sekali tidak diindahkan oleh warga. Perlawanan terus berlangsung.
Merasa tertekan, akhirnya warga mundur dan masuk ke pemukiman yang juga lokasi ternak kaki empat yakni, Jalan Tanggok Bongkar 6, 7 dan 8.
Memasuki kawasan tersebut, kembali perlawanan warga terjadi. Lagi-lagi, hujan batu kembali terjadi. Perlawanan terus berlangsung. Petugas gabungan yang bertugas terpencar. Ada yang menuju Jalan Tangguk Bongkar 6, 7 dan 8. Namun, di Jalan Tangguk Bongkar 7 tepatnya di depan Gereja Pantekosta, para petugas tidak bisa masuk ke area pemukiman dan ternak babi, karena akses jalan tersebut diblokir warga.
Bentrok cukup hebat terjadi di Jalan Tangguk Bongkar 6. Pontius Manullang dan Supriadi, personel Satpol PP Medan terkena lemparan batu di bagian kepala. Keduanya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah di Jalan Mandala By Pass untuk menjalani perawatan. Keduanya kemudian dibawa ke RS Pirngadi Medan.
Menurut Kepala Satpol PP Pemko Medan Kriswan, lemparan yang mengenai anggotanya itu berasal dari atas. “Ada warga yang dari atas rumah melemparnya, jadi tidak terantisipasi. Akhirnya, petugas kita kena di bagian kepala,” katanya saat ditanyai Sumut Pos ketika di Kantor Camat Medan Denai.
Selain korban dari Satpol PP, Lurah Kelurahan Denai Suangkupon Siregar juga cedera. Bibir sebelah kanannya robek dan salah satu giginya tanggal. Suang juga dievakuasi ke Rumah Sakit Muhammadiyah. “Bibir saya tiba-tiba perih. Saya yakin akibat pukulan tangan,” kata Suangkupon kepada wartawan di RS Muhammadiyah.
Ketika petugas mampu menguasai keadaan. Ketika petugas Satpol PP hendak mengangkut tujuh ekor babi milik Amizah Br Sihombing di Jalan Tangguk Bongkar 6 No 35, para warga kembali melakukan perlawanan. Teriakan-teriakan penolakan warga terus menggema. Bahkan, warga sempat melambaikan Bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar.
Saat para personel Satpol PP telah berhasil mengevakuasi tujuh babi dari rumah tersebut, hewan kaki empat yang dimasukkan di keranjang itu diletakkan di badan jalan menunggu kendaraan pengangkut tiba. Perlawanan dari warga kembali terjadi. Salah seorang pemuda dengan berani mengambil keranjang-keranjang yang memuat babi-babi tersebut.
“Keranjang ini bukan milik pemerintah. Keranjang ini punya kami, mau kalian curi keranjang kami ini, lepaskan,” kata pemuda tersebut.
Setelah dilepas, seekor babi hitam berukuran besar berupaya untuk lari. Namun, langsung dipegang oleh tujuh orang Satpol PP. Tak lama berselang, mobil pengangkut babi tiba di lokasi dan mengangkut tujuh babi milik warga tersebut.
Setelah itu, penertiban sempat terhenti. Bahkan, para Satpol PP masing-masing bertanya, apakah penertiban tersebut akan diteruskan atau tidak. Apalagi, para warga juga meminta, penertiban yang dilakukan jangan hanya milik warga, tapi harus juga milik kepala lingkungan 6, Hendrik Manulang.
“Jangan punya kami saja, punya Keplingnya juga harus diambil. Dia yang menerima uang,” kata warga kepada Sumut Pos, sembari menunjukkan rumah Hendrik Manullang.
Sementara itu, beberapa warga yang masih emosi terus berteriak dan memaki-maki Pemko. Pasalnya, pengevakuasi tujuh babi dari rumah milik Amiza br Sihombing tersebut, tanpa diketahui pemiliknya. “Pemerintah maling, pemerintah maling, pemerintah maling,” teriak warga.
Sekira pukul 11.00 WIB, terlihat Wakil Ketua DPRD Medan August Napitupulu beserta anggota DPRD Sumut Tagor Pandapotan Simangunsong muncul di tengah-tengah lokasi ternak babi yang akan ditertibkan.
August bergabung dengan warga yang memblokir Jalan Tangguk Bongkar 7, sementara Tagor Pandapotan Simangunsong yang membawa-bawa map, sibuk menemui Kadistanla Medan Ir Wahid dan Kasatpol PP Medan Kriswan. Mereka kemudian berdialog di Kantor Lurah Kelurahan Tegal Sari Mandala I.
Saat menuju kantor lurah tersebut, bak pahlawan, kedua anggota dewan tersebut dielu-elukan oleh warga. Kurang lebih setengah jam, tepatnya pukul 11.30 WIB, August Napitupulu, Tagor Pandapotan Simangunsong, Kadistanla Medan Ir Wahid, Kasatpol PP Kriswan, Camat Medan Denai Edhie Mulya dan dari pihak kepolisian terlihat keluar dari ruang lurah tersebut. Anehnya, Aspem Pemko Medan Daudta Sinurat dan Kabag Hukum Pemko Medan Iwan Habibi tak terlihat lagi.
Pada saat itu, Kriswan menyatakan, akan tetap melakukan penertiban. “Kita akan lanjut,” tegasnya.
Namun, ternyata penertiban tidak jadi dilanjutkan. Karena, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan lainnya.
Saat Kadistanla Medan Wahid keluar dari ruangan lurah, dia langsung diserbu para wartawan dan beberapa warga. Melihat Kadistanla dikepung seperti itu, tampak beberapa orang dari pihak kecamatan dan kelurahan berupaya melindunginya. Wahid langsung dibawa seseorang yang mengenakan pakaian aparat kelurahan dengan sebuah sepeda motor, menuju ke kantor Camat Medan Denai.
Di kantor camat tersebut, Kasatpol PP Kriswan dan Kadistanla Medan Wahid berdikusi mengenai penertiban yang tidak berjalan lancar tersebut. Kriswan menuturkan, penertiban tersebut terkendala keberadaan dua anggota dewan tersebut. “Ya, karena ada dua anggota dewan itu akhirnya warga jadi bersemangat lagi untuk melawan. Sebenarnya tadi sudah bisa terkendali. Dan saya sudah tegaskan, akan melanjutkan penertiban ini,” katanya kepada Sumut Pos di kantor Camat Medan Denai.
Sementara itu, Kadistanla Medan Wahid menyatakan, penertiban dihentikan dulu dan akan dilanjutkan hari ini, Jumat (10/3). “Kita istirahat dulu, besok kita lanjutkan lagi,” katanya kepada Kasatpol PP Kriswan.
Kriswan menyatakan, akan menerapkan strategi yang lebih baik, agar tidak lagi terjadi kegagalan. “Memang tadi ada mis komunikasi. Besok (hari ini, Red), kita akan siapkan strateginya lebih baik lagi,” cetusnya.
Sekira pukul 13.00 WIB, lima warga korban insiden dirujuk ke RSU Pirngadi Medan. Sejumlah wara yang luka meski mengaku tidak melakukan perlawanan telah melapor ke Polresta Medan dengan surat tanda bukti lapor No STPL/641/III/SU/Resta Medan tertanggal 10 Maret 2011.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Medan Ahmad Parlindungan Batu Bara kepada wartawan menyatakan, oknum dewan yang memanfaatkan situasi ini sama artinya hanya mencari popularitas dan menolak aturan yang telah dibuat dan disahkan DPRD.
“Peraturan sudah ada, tidak ada bagi siapapun untuk tidak mematuhi itu. Perda sudah, ada perwal sudah ada, musyawarah sudah dilakukan. Jangan ada yang mengambil keuntungan dari sini, hanya mengambil popularitas, lantas peraturan tidak dilaksanakan. Itu salaah besar. Itu saya bilang, jangan ada yang mengambil keuntungan. Ketua DPRD kan sudah memintakan, masak kita sendiri menolak itu. Itukan sama saja meludahi muka sendiri. Kalau ada, oknum DPRD yang menghalang-halangi, berarti dia juga menghalang-halangi DPRD. Wajar kalau anggota DPRD itu diperiksa oleh Badan Kehormatan Dewan (BKD),” tegasnya.(ari/mag-7/mag/8)
 

0 OK Azhari Cium Upaya Merendahkan Gubsu, Mengerdilkan Wagubsu

Medan, (Analisa)
Ketua Umum PB Angkatan Muda Melayu Indonesia (AMMI) H OK Azhari SE memperingatkan semua pihak, khususnya kalangan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) tentang kemungkinan penerapan teori pembusukan di kalangan pejabat teras, khususnya terhadap Gubernur Sumut H Syamsul Arifin SE dan Wakil Gubsu H Gatot Pujonugroho ST.
"Belakangan ini saya mencium adanya upaya seperti itu. Di satu sisi merendahkan wibawa Gubsu H Syamsul Arifin dan di sisi lain mengkerdilkan peran Wakil Gubsu Gatot Pujonugroho," kata OK Azhari SE kepada wartawan di Medan, Senin (7/3).
Menurut OK Azhari, upaya merendahkan Gubsu H Syamsul Arifin sangat kentara, dengan lontaran pernyataan-pernyataan yang nadanya seolah H Syamsul Arifin tidak layak lagi menjalankan tugas dan fungsinya sebagai Gubsu, hanya karena ia sedang dalam tahanan KPK. Padahal, antara status Syamsul Arifin sebagai tahanan dengan kedudukannya sebagai Gubernur adalah dua hal yang berbeda.
"Sebagai tahanan KPK tidak dapat dipungkiri ia harus berada di Rutan (Salemba-Red), tetapi sampai saat ini kedudukannya sebagai Gubernur Sumut belum pernah dicabut sehingga ia tetap berhak bahkan wajib menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai Gubernur Sumut. Jadi tidak boleh ada yang membatasi apalagi melarangnya, sampai ada ketentuan pasti dari pemerintahan atasan," tandas OK Azhari.
Sementara itu, suara-suara yang seolah "mengumbang" Wagubsu Gatot agar mengambil peran tugas-tugas Gubsu sebenarnya bukanlah hal yang menguntungkan, karena jika Gatot tergiur dan melakukannya maka ia akan menjadi seorang yang tidak taat azas serta tidak mengerti Tupoksi. "Banyak lontaran komentar seolah membela Gatot agar jangan takut menjalankan fungsi Gubsu yang sedang dalam tahanan, padahal itu sama saja dengan menjerumuskan Gatot kepada pelanggaran karena memang belum menjadi haknya, sehingga di mata orang yang memahami tata pemerintahan Gatot menjadi kerdil," urai OK Azhari.
Harus sadar
Jadi, menurutnya, Gatot harus sadar pada kedudukannya sebagai Wakil Gubsu. "Saya tidak minta ia menyadari bagaimana dahulu bisa menjadi Wakil Gubsu, tetapi cukup menyadari dan memahami tugas dan fungsinya sebagai Wakil Gubsu saja. Jangan mudah silau pada umbangan orang-orang yang ingin mendompleng pada kekuasaannya, tetapi harus istiqomah," ujar OK.
Misalnya, mengenai pengangkatan pejabat seperti Kepala SKPD dan Sekdaprovsu, menurut OK Azhari selama jabatan Gubsu belum dicabut dari H Syamsul Arifin maka adalah haknya untuk mengangkat pejabat atau mengusulkan nama-nama calon Sekdaprovsu ke Mendagri. "Tidak ada yang boleh menghalanginya," tegas OK lagi.
Kerdilkan Wagubsu
Sementara itu OK Azhari juga mengemukakan endusannya tentang adanya upaya lain dengan tujuan mengecilkan Wagubsu Gatot Pujonugroho ST, yaitu tetang munculnya dukungan terhadap Gatot menjadi Ka Kwarda Pramuka Sumatera Utara. Dukungan itu kabarnya muncul dari sejumlah Ka Kwarcab, karena adanya signal dari Ka Kwarda yang akan berakhir masa jabatannya dalam waktu dekat ini.
"Gatot sebagai Wagubsu itu levelnya adalah Waka Mabida Pramuka, jadi kalau diangkat menjadi Ka Kwarda berarti mengerdilkan kedudukannya, bukannya menaikkan derajatnya. Saya curiga hal-hal itu memang sengaja disetting, untuk mengecilkan dan mengerdilkan Gatot, bahkan mungkin untuk mempermalukannya," ungkap OK Azhari.
Ia mengatakan, masih banyak kalangan lain di bawah kedudukan Wagubsu yang pantas menjadi Ka Kwarda, apalagi kedudukan Ka Kwardasu itu cukup dijabat oleh figure setingkat Kepala Biro. "Kalau sampai Wagubsu diangkat menjadi Ka Kwardasu, lalu Waka Mabidasu terpaksa jatuh ke figure selevel Ka Biro atau Asisten, sungguh dari segi logika akan lucu jadinya," ujar OK Azhari sambil tertawa.
(rel/hers)

0 Kualitas Layanan KA Sumut Dinilai Mengecewakan

Medan, (Analisa)
Kualitas pelayanan kereta api di Sumatera Utara (Sumut) dinilai sangat mengecewakan. Selama puluhan tahun, pelayanannya dianggap tidak mengalami kemajuan dalam semua hal.
Demikian disampaikan ekonom Sumut, Jhon Tavu Ritonga, kepada wartawan di Medan, Minggu (6/3) setelah memesan tiket kereta api Medan-Rantau Prapat.
Diutarakannya, selama puluhan tahun tersebut, panjang rel kereta api tidak mengalami pertambahan, bahkan berkurang. Pelayanan juga tidak makin baik.
Mutu pelayanan tiket saja, ungkapnya, tidak mengalami kemajuan, dan bahkan memburuk.
"Hari ini kita memesan tiket untuk lusa bisa tidak tersedia. Padahal, pada lusa kita datang, tiket tersebut tetap bisa kita dapatkan," katanya.
Selain itu, jadwal keberangkatan kereta api juga seringkali molor. Semestinya, rute Medan-Rantau Prapat bisa ditempuh dalam waktu enam jam dengan kecepatan sedang. Kenyataannya, rute tersebut harus ditempuh selama delapan jam.
Kualitas tempat duduk di dalam kereta juga masih buruk," tambahnya.
Jhon Tafbu juga menyayangkan kondisi Stasiun Besar Kota Medan. "Kalau kita melintasi terowongan bawah, masih tercium bau pesing. Keadaan ini seperti kondisi tahun 1970-an saja," kritiknya.
Memiriskan
Ekonom yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (FE USU) ini sangat memprihatinkan kondisi tersebut. Jangka waktu puluhan tahun yang dilalui namun tidak menghasilkan banyak kemajuan dianggapnya sangat keterlaluan.
"Ini keterlaluan padahal pajak rakyat bertambah terus. Demikian juga yang ingin menggunakan pelayanan umum," tambahnya.
Dia menyebutkan, penerimaan pemerintah dari layanan umum juga terus mengalami peningkatan. Pada 2007, jumlahnya mencapai Rp 2,1 triliun dan pada 2010 sudah sebesar Rp 9,7 triliun.
Sayangnya, pemerintah daerah sendiri terkesan menerima saja keadaan ini meski pemerintah pusat sebenarnya terkesan tidak peduli pada daerah. Begitupun dengan rakyat yang sudah apatis, putus asa dan tak memiliki harapan.
"Ini sangat keterlaluan. Kita harapkan DPRD dan DPR RI menggebrak keadaan ini. Jangan menunggu sampai rakyat yang berteriak," harapnya.
"Semestinya, pemerintah yang bekerja dan Dewan yang mengawasi hal itu," sambungnya mengingatkan.
Dia mengharapkan kondisi ini segera diperbaiki. Pemerintah juga diharapkan tidak berwacana seperti layaknya pengamat.
"Kita jenuh melihat dan mendengar cara-cara apologi pejabat pusat menanggapi antrean di penyeberangan Merak-Bakauheni, Lampung. Semua pejabat eksekutif dan wakil rakyat mengatakan ‘akan begini’ dan ‘akan begitu’, tapi semuanya akan," kritiknya pedas.
Gambaran lain ketidakpedulian pemerintah itu juga terlihat dari tidak bertambahnya jalan bebas hambatan selama 30 tahun terakhir.
"Bahkan, peninggalan penjajah, seperti keretaapi pun makin pendek dan mutunya tidak membaik. Padahal logisnya, jika permintaan tinggi, yakni tiket terjual habis, maka tidak layak jika tidak ada pengembangan atau kemajuan atas perkeretaapian tersebut," demikian Jhon Tafbu Ritonga. (gas)

0 Jepang Ajak Medan Kerjasama Teknologi

Medan, (Analisa)
Konsul Jenderal Jepang Yuji Hamada mengajak Kota Medan untuk meningkatkan kerjasama di bidang teknologi. Kerjasama itu pun diharapkan melibatkan masyarakat secara luas.
Hal ini disampaikan Hamada usai bersilaturahmi dengan Ketua DPRD Medan Amiruddin di Gedung Dewan, Senin (7/3).
Menurutnya, saat ini Pemerintah Kota Medan sudah menjalin kerjasama kota kembar (sister city) dengan Kota Ichikawa di Jepang. Namun selama ini sifat kerjasama itu masih sebatas pertukaran pelajar dan budaya. "Kalau ada event masing-masing saling berkunjung dan memperkenalkan kebudayaannya. Ke depan kami berharap kerjasama itu bisa ditingkatkan dengan melibatkan DPRD Kota Medan," sebutnya.
Hamada mengatakan, Kota Medan memiliki sumber daya alam seperti pertanian, perkebunan maupun hal lainnya. Kata dia, masyarakat Medan dan Ichikawa juga harus dilibatkan dalam kerjasama antar kota ini.
"Kalau perlu dibuat semacam wadah kerjasama masyarakat Jepang dengan Medan. Misalnya seperti alih teknologi dalam sistem pertanian," ujar diplomat yang baru bertugas satu bulan di Medan ini.
Yuji Hamada yang sudah 14 tahun tinggal di Indonesia ini mengharapkan, akan terjalin kerjasama yang baik antara kedua belah pihak seperti dalam bentuk pertukaran kebudayaan, di samping dalam bidang teknologi tadi.
Belum lama ini, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang melakukan penjajakan kerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut. Kerja sama ini nantinya akan dilakukan untuk pengembangan pengendalian pencemaran limbah cair khususnya limbah dari Pabrik Kepala Sawit (PKS) dan industri lainnya yang berada di Sumut dengan teknologi.
Potensi
Sumut sangat potensial sekali dengan produksi minyak sawit dan saat ini Jepang tertarik bekerja sama mengendalikan pencemaran limbah cair yang diproduksi oleh PKS. Tujuannya untuk mengurangi gas metan yang dihasilkan dari limbah tersebut.
Ketua DPRD Medan Amiruddin menyambut baik peningkatan kerjasama Jepang dan Kota Medan ini apalagi dalam hal alih teknologi di segala bidang. Sebab harus diakui, Jepang memiliki teknologi yang lebih canggih. "Kerjasama sister city ini harus dikembangkan lagi. Sebab daerah ini punya potensi yang bisa dieksploitasi untuk kebaikan daerah dan masyarakatnya," katanya.
Misalnya di bidang pertanian, Medan atau Sumatera Utara secara umum memiliki lahan yang cukup memadai. Dengan kerjasama yang dibangun, Jepang memiliki hasrat untuk menyalurkan kemampuan teknologinya mendukung pertanian itu.
"Bisa saja dengan teknologinya itu, hasil pertanian semakin baik. Atau juga bisa memaksimalkan lahan yang ada untuk hasil yang maksimal," katanya.
(sug)

0 Dell Inspiron One 2310 All in One Harga Dibanderol Rp13,6 Juta

SumutPos

MEDAN-Softcom distributor dan dealer resmi merek komputer terkenal dunia Dell, menggelar pameran produknya pada Fomikomtech VI di Plaza Medan Fair Medan.
Softcom yang beralamat di Jalan Asia Raya Blok H No 10 Kompleks Asia Mega Mas Medan ini memamerkan satu produk terbaru Dell yang baru saja diluncurkan pada 24 Februari 2011 lalu, Dell Inspiron One 2310 All in One.
Keistimewaan produk ini adalah layar monitor WLED 23 inchi dan pengoperasian touch screen. “Untuk mengoperasikan microsoft office misalnya, bisa langsung menggunakan layar monitor, karena tersedia keyboard virtualnya. Tapi kita menyediakan keyboard dan mouse wireless standar juga dalam satu paket pembelian produk ini,” terang Marketing Softcom Lia, Minggu (27/2).
Selain menyuguhkan layar yang lebar serta pengoperasian layar sentuh, Dell Inspiron One 2310 All in One juga dilengkapi dengan prosesor Intel Core i5 dan 6 GB DDR3 yang memberikan kecepatan maksimal di setiap pengoperasian program-program pendukung dan tambahan.
Untuk mengoperasikan games di dalamnya, Dell Inspiron One 2310 All in One juga didukung dengan hardware grafik 1 GB ATI Radeon Graphic. “Jadi permainan baik yang off maupun online, tampak lebih nyata dan detail yang menjadikan permainan tersebut lebih seru dan mengasikkan,” kata Lia seraya menambahkan untuk OS-nya didukung dengan Windows 7 Home Premium 64 bit.
Sedangkan perangkat pendukung DVD Dell Inspiron One 2310 All in One menggunakan Blue-ray (BD) Combo Drive. Dan masih banyak lagi keunggulan yang disuguhkan Dell Inspiron One 2310 All in One.
Untuk awal pemasaran di Medan, Dell Inspiron One 2310 All in One dibanderol Rp13,6 juta. “Ini merupakan harga khusus di pameran yang berlangsung sejak 24 Februari hingga 2 Maret 2011 mendatang. Setelah pameran tentunya harganya akan berubah,” jelas Lia.
Selain Dell Inspiron One 2310 All in One, Softcom juga memamerkan produk terbaru Dell Seri XPS. Dell New XPS Series ini mendandani performa operasi prosesornya dengan Intel Core i7. Ditambahan Turbo Boost to 2.93 GHz Quad Core. “Kinerja prosesor semakin kencang ditambah memori 4 GB DDR3 SDRAM,” papar Lia.
Dell New XPS Series seperti seri XPS 15 didukung juga grafik untuk game dengan 2 GB nVIDIA GeForce GT435 Graphic. Seri XPS ini dibanderol dari harga Rp9,9 juta hingga Rp12,3 juta.
Softcom juga memamerkan laptop khusus game, Alienware yang memiliki sistem game dengan performa tinggi. Tak pelak harga yang ditawarkan juga sangat berbeda dengan laptop user biasa. Harganya dibanderol dari harga Rp14,4 juta hingga 29,5 juta. (saz)

Delete this element to display blogger navbar

 
© 2010 Koran Medan is proudly powered by Blogger